Bukan hanya buku tabungan, kartu juga secara umum menjadi salah satu alat identitas nasabah bank. Dengan mobilitasnya, kartu lebih nyaman untuk di bawa ke mana saja. Di samping itu, kian maju teknologi juga membuat sistem keamanan dalam kartu ini semakin membaik.

Bahkan, dalam perkembangannya memungkinkan nasabah bisa bertransaksi tanpa adanya kartu secara fisik lho.

Selain berfungsi sebagai identitas nasabah suatu bank, pengguna kartu atau nasabah juga berhak mendapatkan segala akses ATM bank tersebut.

Belum lagi, penambahan fungsi kartu debit pada kartu ATM membuatnya menjadi kartu pembayaran yang paling popular karena dapat digunakan di hampir seluruh pedagang/merchant melalui mesin EDC (Electronic Data Capture).

Namun untuk kartu debit dan kredit tidak dapat disatukan, pasalnya kedua kartu ini memiliki sumber dananya berbeda. Bila kartu debit berasal dari rekening pribadi, sedangkan kartu kredit adalah kartu hutang dimana pembayaran dilakukan terlebih dahulu oleh pihak bank.

Perkembangan Teknologi Kartu

Perkembangan teknologi terbilang cukup pesat, pasalnya dari yang sebelumnya hanya dibekali pita magnet (magnetic stripe/magstripe) menjadi chip EMV, kini kartu ATM pun dilengkapi NFC serta biometric security.

Bahkan, terdapat juga Kartu magstripe juga sempat populer, namun disayangkan kartu ini sangat rentan sekali terkena kasus pencurian data melalui metode skimming sehingga dilarang diterbitkan lagi per 1 Januari 2022.

Sebab itu, kemudian BI mengeluarkan peringatan keras yang melarang double swiping di merchant dan mengembangkan standar NSICCS sebagai standar nasional teknologi chip pengganti kartu ATM/Debit magstripe.

Sementara itu, data pada kartu ATM/Debit berdasarkan ISO7813 dituliskan pada 3 lajur paralel (track) dibalik lapisan warna hitam pita magnet kartu untuk menjaga integritas seluruh data.

Di mana Track pertama dan kedua berisi nama, nomor kartu, masa berlaku, dan CSC1 (Card Security Code – CVV Visa, CVC MasterCard) untuk transaksi gesek langsung (CP – Card Present). Kemudian untuk Track ketiga opsional biasanya kosong. Informasi ini dapat diambil dengan magnetic card reader dan dikloning ke kartu lain.

Baca Juga: https://www.nontunai.com/pengertian-sistem-pembayaran-non-tunai/

FYI, Teknologi kartu pintar ini dikembangkan oleh EMV, yang merupakan konsorsium Uni Eropa dengan Master Card dan Visa. Dalam chip telah terintegrasi sistem komputer sederhana yang memastikan komunikasi antara kartu dan EDC dalam keadaan aman dan tersandikan sesuai standar ISO7816.

Meski demikian, seiring kebutuhan kenyamanan pengguna, berkembang lagi teknologi contactless card berdasarkan standar ISO14443. Dengan adanya teknologi NFC card emulation pada smartphone, teknik tokenisasi dari kartu baru dapat digunakan setelah otentifikasi biometrik sehingga mempercepat waktu akses kartu dan pertukaran data dengan tetap menjaga keamanan.

Anatomi Kartu

Tak hanya tubuh manusia yang memiliki Anatomi lho, tetapi kartu ATM juga ada. Anatomi kartu ATM terdiri dari enam belas angka yang tercetak timbul pada kartu debit maupun kredit memiliki standar penomoran internasional.

Enam angka pertama ini dikenal sebagai BIN (Bank Identication Number), di mana angka pertama ini menunjukkan perusahaan switching (misal 4: Visa, 5: MasterCard, dan 6: Maestro) dan lima angka berikutnya merupakan kode identitas bank penerbit dan tipe kartu (misal Kartu Kredit Mandiri Platinum).

Kemudian, sembilan angka berikutnya merupakan identitas nasabah dengan 1 angka terakhir merupakan checksum untuk memastikan tidak ada nomor identitas yang berurutan.

Sementara itu, untuk transaksi CNP (Card Not Present) dengan menuliskan informasi kartu saat transaksi online, di bagian belakang tertulis 3 angka CSC2 sebagai otentikasi tambahan yang berbeda dengan CSC1 di dalam magstripe.

Bahkan, beberapa penerbit kartu kredit juga menambahkan fitur MFA dengan mengirimkan kode SMS untuk mengotentikasi transaksi yang secara general disebut 3-D Secure (contoh: Verified by Visa dan MasterCard SecureCode) yang melalukan validasi 3 Domain yang dilalui ketika bertransaksi.

Tata Aturan APMK

Menurut Peraturan Bank Indonesia tentang APMK (Alat Pembayaran Menggunakan Kartu), atau yang dikenal dengan istilah issuer (penerbit), acquirer, dan switching atau payment network. Penerbit kartu berhubungan langsung dengan pengguna dan mengelola administrasi penagihan dan hubungan nasabah. Acquirer melekat kepada pedagang dan bertanggung jawab akan pembayaran serta perangkat EDC.

Sementara untuk prakteknya, banyak penerbit kartu dan acquirer secara end-to-end dipegang oleh jaringan bank yang sama (On-Us). Namun ketika antara penjual dan pembeli berbeda bank atau transaksi di luar negeri dengan acquirer berbeda (Off-Us), dibutuhkan perusahaan switching sehingga transaksi dapat dilakukan.

Dari sinilah, ketika mesin EDC berkomunikasi dengan kartu, EDC akan meneruskan data tersebut ke peladen acquirer. Jika acquirer tidak mengenal BIN dari kartu, maka acquirer memiliki default switching berdasarkan Principal kartunya (Visa atau Mastercard).

Principal memiliki semua data BIN yang dikelolanya lalu meneruskan ke peladen penerbit kartu tersebut untuk menanyakan apakah transaksi dengan nominal yang tertera pada EDC dapat diotorisasi atau tidak. Pada proses ini juga penerbit dapat melakukan blokir karena saldo tidak cukup, atau bahkan blokir karena dicurigai adanya fraud akan penggunaan transaksi dilakukan di luar negeri.

Posisi switching ini sangat penting karena sebagai pusat interkoneksi pembayaran, Visa dan Mastercard meraup fee dari pembayaran lisensi BIN, komisi per transaksi, dan interchange settlement. Peraturan Bank Indonesia mengenai National Payment Gateway atau Gerbang Pembayaran Nasional kemudian dibuat untuk memastikan biaya switching transaksi ritel domestik tidak harus ke luar negeri seperti sebelumnya dengan memperkenalkan aturan domestic switching.

Tinggalkan Balasan