Adanya kemudahan transaksi nontunai atau transaksi digital berdampak perubahan dalam gaya hidup masyarakat.

Mulai dari pemilihan jasa layanan penunjang hidup hingga lebih konsumtif.

Ada orang yang tidak lagi ke pasar tradisional karena tergiur potongan harga dan memilih supermarket.

Begitu pun urusan perut, lebih sering memesan makanan lewat aplikasi ojek online.

Alasannya terdapat banyak potongan harga sehingga lebih murah saat dipesan antar dibandingkan datang ke toko.

Apalagi tidak perlu kelelahan atau terkena sinar matahari di siang bolong.

Perencana keuangan Zelts Consulting, Ahmad Gozali, mengamini terjadinya perubahan perilaku konsumsi masyarakat dengan kehadiran uang elektronik.

Ia mengatakan, perubahan perilaku pasti akan terjadi.

Biasanya terdapat setidaknya terdapat tiga faktor pendorong masyarakat agar makin boros atau malah makin hemat.

Pertama, faktor potongan harga atau promo.

Ia melihat banyaknya penawaran promo dari dompet digital membuat konsumen terdorong untuk membeli lebih banyak walaupun tidak terlalu dibutuhkan.

Namun faktor ini bermata dua, yang justru bisa membuat pengguna lebih hemat bila bijak menggunakannya.

Ia mengatakna, konsumen kerap menggunakan uang digital untuk biaya transportasi atau makanan yang sering kali mendapatkan promo.

Bila hal ini rutin dipakai maka pengeluaran pun menjadi lebih kecil.

Sehingga dompet masih akan tetap gemuk di akhir bulan tertolong oleh potongan harga.

Kedua, faktor non-tunai atau cashless.

Ia mengatakan belanja dengan menggunakan uang tunai membuat masyarakat lebih sadar karena ada uang fisik yang dipegang.

Lalu uang tersebut diserahkan kepada penjual.

Belanja uang tunai Rp 500.000 terasa lebih berat dibandingkan belanja Rp 100.000 lantaran uang yang diserahkan terasa lebih banyak.

“Namun dengan transaksi cashless, belanja Rp 5.000 atau Rp 500.000 pun sama saja prosesnya, tinggal satu kali klik atau konfirmasi,” kata Ahmad.

Kendati demikian, ia melihat ada fenomena pada awal-awal penggunaan cashless hal ini membuat konsumen menjadi kurang hati-hati dan cenderung boros.

Namun faktor ini hanya sementara saja sampai sudah terbiasa melihat angka di layar bukan uang fisik di tangan.

Ahmad melihat tidak masalah bagi pengguna menggunakan lebih dari satu layanan uang elektronik.

Sebab boros atau tidaknya tidak tergantung dari jumlah uang digital yang dimiliki.

Tinggalkan Balasan