Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali menggandeng sivitas akademika Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, untuk lebih mempopulerkan penggunaan transansaksi nontunai di tengah situasi pandemi Covid-19.
“Transaksi nontunai harus didorong terus, mau tidak mau, apalagi anak-anak muda pasti sudah biasa menggunakannya,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho.

Terlebih, menurut dia, Undiknas yang mahasiswanya berasal dari keluarga golongan menengah ke atas, sudah sangat akrab menggunakan alat pembayaran nontunai seperti OVO, Gopay, LinkAja dan sebagainya. “Kami mendorong nontunai karena sekaligus bisa membantu para pengusaha untuk tetap survive di tengah pandemi Covid-19,” ucapnya.

Dalam kesempatan web seminar yang dilakukan secara online tersebut diikuti 200 peserta dari unsur mahasiswa dan akademisi Undiknas, Trisno juga menjelaskan standardisasi pembayaran nontunai dengan menggunakan sistem QRIS (QR Code Indonesia Indonesian Standard).

Dia menyampaikan hingga 24 April 2020, jumlah merchant QRIS di Provinsi Bali tercatat sudah hampir 84 ribu merchant, meningkat lebih dari 3.000 merchant hanya dalam kurun waktu dua minggu atau meningkat sebesar 229 persen dibandingkan dengan akhir tahun 2019.

“Selain itu, transaksi yang dilakukan melalui QRIS pada periode Januari-Maret 2020 terus meningkat baik secara volume maupun nominal,” ujarnya.

Ke depannya dalam mendukung mitigasi risiko penyebaran Covid-19, Bank Indonesia bersama-sama dengan stakeholders akan terus meningkatkan akseptansi QRIS secara tematik khususnya pada segmen yang diperbolehkan untuk tetap beroperasi berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 seperti perdagangan ritel, sosial keagamaan, dan kesehatan yang didukung oleh inovasi pendaftaran online, sosialisasi virtual dan perluasan fitur QRIS tanpa tatap muka. Saat ini, mayoritas merchant yang menggunakan QRIS di Bali masih didominasi pelaku usaha di Kota Denpasar, Kabupaten Badung dan Gianyar.

Tinggalkan Balasan