Adanya wabah Covid-19 menyebabkan pergeseran interaksi antar manusia, antara lain mengurangi intensitas pertemuan fisik , tatap muka, termasuk juga meminimalkan kontak fisik dalam bertransaksi. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan pengunaan digital payment seperti penggunaan Quick Response Code Indonesia Standar (QRIS).

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI), Filianingsih Hendrata, transaksi yang dilakukan melalui QRIS saat ini terus meningkat, baik secara volume maupun nominal. Hingga saat ini tercatat sebanyak 3,3 juta merchant telah mengimplementasikan penggunaan QRIS. Di sisi lain, transaksi melalui EDC debit mengalami penurunan akibat perluasan QRIS dan penurunan aktivitas transaksi offline di tengah pandemic Covid-19.

Baca Juga: https://www.nontunai.com/bi-bali-imbas-pandemi-80-000-merchant-gunakan-qris/

“Interkoneksi transaksi QRIS di merchant meningkat mencapai 2,2 juta transaksi interkoneksi selama Maret 2020, dengan total nominal mencapai Rp 75,1 miliar atau rata-rata Rp 34.177 per transaksi. Secara volume transaksi juga naik 130% dari Februari 2020,” terang Filianingsih Hendrata.

Sementara itu, rata-rata transaksi harian melalui EDC di skema GPN terus tumbuh negatif sejak Februari 2020 yang -7,1%, Maret -20,7% dan April 2020 -45,5%. Menurut Filianingsih, penurunan drastis transaksi di EDC dimulai sejak diumumkannya kebijakan belajar di rumah pada 16 Maret 2020 yang diikuti kebijakan work from home (WFH) oleh instansi pemerintah dan swasta.

Untuk mengurangi beban masyarakat dalam bertransaksi non tunai, BI juga telah menurunkan fee Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dari capping maksimal Rp 3.500 menjadi maksimal Rp 2.900 di sisi nasabah. Penurunan fee tersebut berlaku sejak 1 April 2020 hingga akhir tahun.

Tinggalkan Balasan