Seiring dengan terus meningkatkan kesadaran masyarakat memanfaatkan transaksi nontunai, Bank Indonesia (BI) mulai 1 Januari 2020 memberlakukan QRIS (quick response Indonesia standard).

Yaitu, metode pembayaran melalui scan kode QR yang sudah distandarisasi oleh BI. Sehingga, semua aplikasi pembayaran bisa melakukan transaksi dengan merchant yang memakai QRIS.

“Masyarakat punya aplikasi pembayaran apa saja bisa scan kode QRIS. Tidak harus download banyak aplikasi seperti sebelumnya,” kata Hestu Wibowo, kepala Kantor Perwakilan BI Jember.

Dia mengakui, BI mendorong masyarakat untuk melakukan transaksi nontunai dengan QRIS.

Baca Juga: https://www.nontunai.com/ini-kata-umkm-belum-gunakan-qris/

Sebab, QRIS memiliki lebih banyak keunggulan dibandingkan metode transaksi nontunai lainnya, seperti uang elektronik atau alat pembayaran memakai kartu (APMK).

Dari survei BI pada 2017, transaksi tunai di Indonesia masih di angka 95 %. Padahal, bertransaksi nontunai dengan QRIS memiliki banyak keuntungan.

Pertama, pembayaran dengan QRIS praktis dan mudah. Cukup berbekal HP berkamera dan memiliki aplikasi pembayaran, transaksi bisa dilakukan.

Kedua, transaksi bisa dilakukan dengan cepat. “Merchant tidak repot dengan uang kembalian jika  kita bayar tunai dengan uang pecahan besar, sementara transaksinya kecil,” kata Hestu.

Ketiga, secara pengelolaan lebih mudah dan terhindar dari risiko lain. “Pengelola tol sebelum pakai transaksi elektronik setiap hari harus menyediakan pecahan 500-an sebanyak Rp 150 juta,” ungkapnya.

Keempat, bertransaksi nontunai lebih aman. Sebab, masyarakat tidak perlu membawa uang tunai ke mana-mana.

Karena itu, Hestu mengatakan, BI Jember akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai QRIS.

Sasaran utamanya adalah lembaga pendidikan, pasar tradisional, dan toko-toko yang menjual produk khas daerah. “Walaupun tidak menutup peluang untuk sosialisasi di segmen yang lain,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan