Kantin blok narkoba Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Purwokerto, terlihat sibuk melayani warga binaan yang membeli berbagai kebutuhan. Ada yang beli rokok, kopi, sayur matang, sabun mandi, jajanan pasar hingga gorengan (bakwan dan mendoan). Hampir semua kebutuhan warga binaan dapat terpenuhi di kantin itu.

Mereka rela antre karena di kantin itu hanya ada satu pelayan. Pelayan harus melayani satu per satu barang yang dibeli, kemudian mencatat transaksi dengan sistem komputerisasi. Di blok narkoba terdapat 300an warga binaan. Setiap pagi hingga siang mereka secara bergantian ke kantin membeli barang kebutuhan pokok.

Meskipun demikian, proses transaksi terbilang cepat dan mudah, karena transaksi di lingkungan lapas menggunakan “u-nik” alias uang elektronik. Tidak ada warga binaan yang membawa uang tunai. Kalaupun ada mereka tidak dilayani, tapi diarahkan untuk melakukan top up saldo lebih dulu.

Saat transaksi, uang elektronik (u-nik) cukup ditempel di mesin Electronic Data Capture(EDC) yang disediakan di kantin. Setelah transaksi berhasil akan keluar struk bukti transaksi dari mesin itu.

Struk bukti transaksi yang satu diberikan kepada pembeli, satu bukti transaksi lain disimpan pelayan kantin untuk kerapian administrasi.

“Transaksi tidak ribet dan lebih cepat,” kata Latif, salah satu warga binaan.

Apabila, ia kehabisan saldo keluarganya akan melakukan top up di pusat register lapas. Pengisian uang elektronik juga dapat dilakukan dengan cara transfer, sehingga keluarga yang besuk tidak lagi membawa uang karena bisa dikirim lewat transfer.

Ketika saldo terisi, petugas Lapas akan memberikan bukti transaksi pengisian saldo kepada warga binaan. Ini untuk memberikan informasi nominal yang diisi pada uang elektronik. Besaran saldo uang elektronik maksimal Rp 1 juta.

Bagi warga binaan, uang elektronik juga dapat mencegah tindakan negatif, seperti menghindari perjudian di dalam lapas karena tidak ada uang tunai beredar.

“Saya sudah menggunakan uang elektronik ini sejak dua tahun lalu. Pakai ini (uang elektronik) lebih enak, tidak timbul negatif,” kata Sandi, warga binaan lain.

Lapas Kelas II A Purwokerto menerapkan transaksi nontunai sejak 2017. Seluruh warga binaan yang jumlahnya 863 orang telah memiliki kartu (u-nik) uang elektronik untuk bertransaksi.

U-Nik itu untuk membeli berbagai kebutuhan warga binaan, maupun untuk membayar tarif telpon saat menggunakan wartel khusus di tiga blok. Satu blok ada dua gerai, jadi tiga blok ada enam gerai yang siap melayani warga binaan untuk berkomunikasi.

Layanan transaksi nontunai dikelola oleh Koperasi KPRI PPDK Lapas II A Purwokerto. Saat ini, layanan transaksi nontunai di lingkungan Lapas bekerja sama dengan BRI.

Tinggalkan Balasan