Pertama di Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya provinsi Kalimantan Barat menerapkan pengelolaan transaksi nontunai pada 20 puskesmas yang ada di setiap kecamatan di kabupaten itu.

“Penerapan sistem non tunai (cashless) di sini tidak hanya dilakukan di 118 desa, karena semua puskesmas yang tersebar di daerah ini sudah lebih dulu menerapkan sistem cashless,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya Marijan.

Dia menjelaskan, selain dilakukan semua Puskesmas, sistem nontunai dengan aplikasi Cash Management System (CMS) Bank Kalbar ini juga sudah di lakukan di 129 Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan 72 Puskesmas Pembantu (Pustu) yang tersebar di sembilan kecamatan di Kubu Raya.

Baca Juga: https://www.nontunai.com/cari-tahu-cara-beli-tiket-hingga-naik-kereta-bandara-dari-stasiun-manggarai/

“Alhamdulillah semuanya sudah mengelola keuangan dengan nontunai, kecuali penggunaan anggaran yang dibawah Rp 1 juta, seperti untuk membeli bensin,” ujarnya.

Marijan bersyukur, dalam penerapan sistem nontunai, meski terdapat kendala, namun sampai saat ini semua puskesmas mampu menjalankannya dengan baik dan lancar. Karena semua anggaran yang dikeluarkan semuanya melalui rekening dan dipastikan sampai kepada pihak yang menerimanya, seperti penggunaan anggaran untuk perjalanan dinas yang dilakukan Kepala Puskesmas, Kepala TU dan staf yang dimaksutan ke masing-masing rekening.

“Namanya juga hal yang baru, jadi ada sedikit persoalan yang dihadapi namun semuanya bisa diatasi dengan baik dan lancar karena yang mengendalikan semua ini ada di Dinas Kesehatan. Terobosan dan inovasi dari bapak Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan ini, tentunya sangat memberikan keamanan dan kenyamn bagi kami untuk mengelola anggaran di Dinas Kesehatan agar lebih transparan dan akuntabel,” katanya.

Marijan menuturkan, meski belum diluncurkan, namun semua proses penganggaran di Dinas Kesehatan sudah berbasis elektronik, termasuk pemberian gaji dan honor bagi kader Posyandu, kader lansia, dan dukun. Namun Marijan tidak menampik, untuk pemberian honor bagi dukun ada sedikit kendala, karena kebanyakan tanda tangan yang di tulis dukun tidak sama dengan tanda tangan yang ada di KTP, sehingga hal ini ditolak bank.

“Karena tanda tangan yang diberikan dukun ini berbeda dengan KTP, maka bank belum berani untuk mentransfernya. Mengingat bank tidak akan mentransfer dananya jika adanya sedikit perbedaan tanda tangan yang ada di KTP. Kedapannya kita akan coba carikan solusinya dan saat ini sudah berjalan,” kata Marijan.

Tinggalkan Balasan