Perkembangan industri digital terus berkembang setiap tahun. Perkembangan tersebut mencakup ekonomi digital berbasis industri dan perdagangan digital atau dikenal sebagai e-commerce, salah satu pangsa pasar paling siginifikan di Indonesia saat ini. Karena itu, pemerintah Indonesia terus mendorong berbagai pengembang ekonomi tersebut dengan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendorong Ekonomi Digital Indonesia.

Penguasaan teknologi yang dimaksud adalah seperti membangun infrastruktur fyber optik, proyek Palapa Ring, dan kapasitas ketersediaan bandwidth.  Sebab, Indonesia adalah salah satu negara paling tinggi pengunaan smartphone, yang juga membuat ekonomi digital menjadi semakin kuat dan cepat.

Hingga saat ini, jumlah smartphone yang beredar di Indonesia lebih dari 130 juta unit. Jika angkat tersebut ditambah dengan perangkat 3G yang telah bermigrasi ke 4G, maka jumlah itu bertambah menjadi 230 juta pengguna. Setiap tahunnya, Indonesia menjual sekitar 60 juta unit smarphone kepada masyarakat.

Karena itu, untuk mendukung pengembangan ekonomi digital berbasis industri, Kementerian Perindustrian menyiapkan langkah-langkah strategis dalam menghadapi era indrustri 4.0, dengan melakukan studi banding di pusat inovasi di Singapura, China, dan negara-negara lainnya.

Tak saja melakukan studi banding, kementerian juga mengajak pelaku industri nasional untuk melihat potensi pengembangan teknologi digital seperti artificial intelligent, robotic, dan 3D printing. “Tujuannya untuk lebih efisien dan meningkatkan produktivitas. Sejumlah manufaktur besar yang telah siap memasuki era Industry 4.0, di antaranya industri semen, petrokimia, otomotif, serta makanan dan minuman.” Kata Menprin, Airlangga Hartarto.

Dikatakan pula, daya saing manufaktur dan potensi ekonomi digital yang ada di Indonesia harus diimbangi dengan inovasi teknologi. Hal ini perlu dibutuhkan pusat-pusat inovasi industri untuk menunjang peningkatan SDM, kemajuan teknologi dan penumbuhan wirausaha baru. “Kami komitmen untuk memajukan pusat inovasi industri seperti yang ada di Bali, Batam, Bandung dan Surabaya,” tuturnya.

Salah satu bentuk nyata adalah pembangunan Nongsa Digital Park (NDP) di Batam. Kawasan ini akan menjadi basis sejumlah pelaku industri kreatif di bidang digital seperti pengembangan startup, web, aplikasi, program-program digital, film dan animasi.

Sedangkan, yang berbasis platform e-commerce, pemerintah mulai memfasilitasi dalam proses logistik, kemudahan impor tujuan ekspor, dan pembiayaan. “Kami tengah melakukan harmonisasi regulasi, termasuk perpajakan, cukai, payment gateway, sehingga bisa membuat produk lokal bisa beredar di pasar ASEAN,” lanjutnya.

Sejalan hal tersebut, Kemenperin telah memacu perluasan pasar bagi industri kecil dan menengah (IKM) melalui pembangunan sistem e-Smart IKM. “Kami memformulasikan digital environment untuk meningkatkan pertumbuhan IKM di dalam negeri. Kami juga mengidentifikasi beberapa IKM yang sudah memanfaatkan market place, seperti sektor makanan dan minuman, perhiasan, kosmetik, fesyen serta kerajinan,” paparnya.

Tinggalkan Balasan