Produk pembayaran digital makin digemari oleh hampir sebagian masyarakat di Indonesia. Produk pembayaran tersebut ada yang berbasis server, ada pula yang chipset. Dua produk ini dinyatakan tengah bersaing untuk memperebutkan pangsa pasar urban yang terus berkembang naik secara signifikan dan menyakinkan. Sehingga, diprediksikan nilai transaksi pembayaran digital ini akan tembus 50 miliar dolar AS pada 2027.

Adalah Morgan Stanley, salah satu bank investasi terkemuka di Amerika Serikat (AS) mengatakan, pada tahu

2018 transaksi Go-Pay telah mencapai Rp89 triliun, mengalahkan transaksi perbankan atas layanan pembayaran Bank Mandiri senilai Rp13,35 triliun, BCA senilai Rp4,04 triliun atau BNI yang nilainya hanya berhasil mencapai Rp880 miliar.

Menurut Morgan, hasil tersebut didapatkan dari adanya kebiasaan masyarakat dalam melakukan transaksi online berbasis server. Artinya, kepercayaan terhadap pembayaran digital ini juga semakin tinggi.

Morgan menyebutkan, pengguna terbayak pembayaran digital saat ini dikuasi ole Go-Pay. Pun demikian, produk berbasis server di bawah naungan Go-Jek tersebut dikatakan masih tertinggal jauh dibandingkan dengan OVO, yang juga produk layanan transaksi digital berbasis server pesaingnya.

Survei terhadap 727 pengguna fintech pembayaran yang berpendapatan menengah ke atas di beberapa kota di Indonesia pada Oktober 2018 menjelaskan, sebanyak 86% responden mengenal Go-Pay dan OVO. Artinya penetrasi kedua produk ini sudah mencapai angka yang sangat tinggi.

Dari angka itu, hasil survei menunjukkan sebanyak 73% responden menggunakan OVO dan 71% memakai Go-Pay. Namun demikian survei lain menyebutkan justru Go-Pay yang memegang posisi market leader. Survei terkini yang dilakukan DailySocial menyebut bahwa market leader saat ini adalah Gopay dengan pengguna 79% dari responden yang disurvei (1.400 responden), sedangkan Ovo digunakan 58% dan T-Cash digunakan oleh 55% responden. Tampaknya banyak responden yang memiliki lebih dari satu aplikasi dompet elektronik ini.

Persaingan dompet digital juga semakin kencang, ketika T-Cash yang merupakan produk Telkomsel berganti baju menjadi LinkAja. Produk baru ini menggandeng beberapa bank BUMN sebagai mitra. Selain ketika produk tersebut kita juga mengenal ‘Dana’ yang memasuki pasar yang sama.

Kini semua produk berusaha untuk memperbesar market dengan mendorong orang untuk men-download aplikasinya. Sementara itu, Go-pay sendiri diuntungkan dengan memanfaatkan basis pelanggan Go-Jek yang memang sudah lumayan besar. Ovo juga melompat dengan bekerja sama dengan Grab untuk menarik basis pengguna.

Bagaimana dengan merchant? Saat ini memang mereka masih mengratiskan. Semua transaksi elektronik kepada merchant tidak dipungut bayaran apa-apa. Tapi diperkirakan ke depan akan ada fee yang ditarik dari setiap transaksi.

Persaingan di sistem pembayaran berbasis server memang sedang seru-serunya. Berbagai diskon dan cashback ditawarkan. Sementara pada produk yang berbasis chipset, persaingan keras terjadi pada produk turunan dari bank.

BCA memiliki kartu Flazz yang hadir lebih dahulu. Sementara itu, bank dengan basis konsumen besar lainnya yaitu Mandiri memiliki produk e-Money. Bank lain seperti BRI punya Brizzi dan BNI memiliki Tapcash.

Produk ini sangat diuntungkan dengan kebijakan beberapa perusahaan seperti jasa angkutan dan pembayaran tol. Pengguna Computer Line misalnya menggunakan berbagai produk uang elektronik untuk membayar ongkos transportasi. Demikian juga pengguna TransJakarta. Dengan dibukanya kerja sama ini, popularitas Flazz atau e-Money meningkat sangat dratis.

Meningkatan kedua ketika pintu tol mengharuskan pembayaran menggunakan model yang sama. Pada 2017 diperkirakan setiap bulan lebih dari 100 ribu kartu pembayaran digital dibeli masyarakat.

Pemerintah sendiri mendorong terus pertumbuhan dunia digital ini. Kebijakan yang dikeluarkan bukan untuk menghambat perkembangannya tetapi lebih diarahkan untuk melindungi keamanan transaksi dan data nasabah.

Tinggalkan Balasan