Disrupsi menciptakan penggunaan transaksi nontunai bagi bisnis perseroan. Hal ini dnyatakan langsung oleh Perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang pencetakan uang, Perum Peruri.

Menurut Direktur Pengembangan Usaha Peruri, Fajar Rizki mengatakan, perseroan mulai berekspansi ke bisnis keamanan digital (digital security). Langkah tersebut selaras dengan perkembangan ekonomi digital, khususnya e-commerce dan fintech.

Terdapatnya peluang bisnis Peruri ini juga, kata dia, Perum Peruri akan lebih menjamin keaslian dan keamanan transaksi untuk fintech dan e-commerce.

“Sejauh ini kami telah meluncurkan tiga produk pelayanan keamanan digital yakni Peruri Trust, Peruri Code, dan Peruri Sign. Kami pun akan mendorong bisnis ini meski saat ini porsinya terhadap pendapatan masih minim,” ujarnya.

Diketahui sepanjang 2019 lalu, Peruri telah meraup pendapatan Rp3,9 triliun, naik 23 persen dibandingkan 2018 yang sebesar Rp3,1 triliun.

Kenaikan ini terjadi karena permintaan uang fisik masih cukup tinggi. Pasalnya, tren transaksi nontunai terbatas di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya,” kata Fajar

“ndonesia negara kepulauan, jadi kota-kota yang jauh permintaan uang fisiknya masih tumbuh. Kalau di kota besar, itu (transaksi nontunai) memang berkembang,” tutur Fajar.

Fenomena tersebut, menurut Fajar, juga terjadi di level global. “Untuk pertumbuhan uang kartal dari kajian-kajian menunjukkan masih tumbuh 2-3 persen untuk kebutuhan uang kertas dan logam,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan