Pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya menjalankan Gerakan Nasional Nontunai (GNNT). Gerakan ini dimaksudkan untuk mengalihkan penggunaan uang tunai dalam segala lini pembayaran ke penggunaan uang elektronik. Hal senada juga disuarakan oleh Presiden Jokowi yang ingin meningkatkan penggunaan uang elektronik di Indonesia.

Uang elektronik sebenarnya bukanlah barang baru, kemunculannya di tanah air dimulai pada 2007. Namun baru belakangan ini penggunaanya digembar-gemborkan. Di masyarakat sendiri penggunaannya sudah menjamur di sekitar kita. Lalu, apakah Anda sendiri sudah familier dengan uang elektronik (e-money)? Apa saja fakta menarik seputar e-money di Indonesia? Simak ulasannya berikut:

Penerapan Uang Elektronik di Indonesia Didasari dengan Pemaksaan

 “Bisa karena terbiasa, terbiasa karena dipaksa”. Mungkin itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan penggunaan uang elektronik di Indonesia. Berawal dari peraturan penggunaan uang elektronik untuk pembayaran tiket Kereta Rangkaian Listrik (KRL) atau dikenal juga dengan nama commuter line pada Juni 2013 hingga penetapan pembayaran tol nontunai pada 31 Oktober 2017 silam, pemerintah seakan memaksa penggunaan e-money di berbagai lini umum agar masyarakat terbiasa.

Di tahun yang sama, 2013, sektor transportasi andalan ibukota, Transjakarta, juga dikenakan peraturan yang sama. Yaitu penggunaan uang elektronik untuk membayar ongkosnya. Akan tetapi, hal tersebut belum terlalu ketat karena penumpang masih bisa membeli tiket harian (tiket kertas) untuk sekali perjalanan.

Baru pada pertengahan tahun selanjutnya lah, 2014, seluruh pembayaran ongkos Transjakarta diwajibkan menggunakan uang elektronik. Aturan ini disusul dengan peraturan pembayaran parkir di stasiun-stasiun KRL wajib menggunakan e-money pada Oktober 2014. Hal tersebut dirasa baik karena nantinya masyarakat akan terbiasa menggunakan uang elektronik yang dinilai lebih praktis penggunaannya.

Lini Transportasi Menyedot Pengguna Uang Elektronik Paling Banyak

Penggunaan e-money paling banyak ada pada sektor transportasi, ini wajar karena pengenalan awal e-money adalah untuk membayar biaya transportasi.

Pengguna terbanyak uang elektronik ini merupakan karyawan swasta ibukota yang pada hari kerja lebih memilih menggunakan transportasi umum untuk sampai ke kantor. Selain transportasi umum, transportasi online dengan pembayaran nontunai pun menjadi pilihan pegawai kantoran. 

Maksimalkan Penggunaan Uang Elektronik

Bagi Anda yang mungkin sudah akrab dengan penggunaan uang elektonik dalam sehari-hari, maksimalkan penggunaannya. Ini karena uang elektronik sudah hampir bisa digunakan dalam berbagai sektor transaksi.

Tidak melulu soal pembayaran transportasi dan tol, akan tetapi bisa digunakan seerti untuk berbelanja, bayar parkir, beli tiket bioskop dan lain sebagainya. Banyak keuntungan yang nantinya dapat dinikmati selain penggunaannya yang simpel, berbagai diskon menarik juga ditawarkan oleh penerbit uang elektronik yang bekerjasama dengan berbagai macam merchant. Jadi, masih enggan beralih ke uang elektronik?

Tinggalkan Balasan