Inilah 14 Ruas Tol yang Melayani Transaksi Nontunai
Inilah 14 Ruas Tol yang Melayani Transaksi Nontunai

Buat Anda pengguna nontunai, waspadalah saat hendak masuk tol. Pasalnya, ada beberapa pintu tol yang mengenakan tarif lebih mahal dari semestinya, dan kejadian ini bisa menimpa setiap pengguna jalan tol.

Sebuah pengalaman buruk pengenaan tarif tol yang lebih mahal saya alami saat keluar-masuk ruas tol Malang-Pandaan, Jawa Timur, akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan mesin dalam membaca jenis kendaraan yang saya kemudikan.

Siang itu, 17 Desember 2018, saya masuk Gerbang Tol Otomatis (GTO) Pasuruan dalam perjalanan pulang dari ke kantor Cabang Dinas Pendidikan di Pasuruan. Begitu keluar GTO Pandaan, saya dikenakan tarif Rp 47 ribu.

Tarif itu lebih mahal dibandingkan saat saya berangkat dari rumah pada pagi harinya. Saat keluar GTO Pasuruan, tarif yang harus dibayar hanya Rp 31 ribu.

Struk tol

Tarifnya berbeda, padahal ini perjalanan bolak-balik.

Agak kaget juga. Apa tarif naik atau bagaimana? Saya beruntung punya kebiasaan menyimpan struk transaksi nontunai di pintu tol. Struk tol itu kemudian saya bawa ke kantor Jasamarga selaku pengelola Tol Malang-Pandaan.

Tujuannya, bukan komplain sih, hanya ngecek saja. Kok bisa, dengan jarak yang sama, E Toll saya dikenakan tarif yang berbeda.

Sensor Tidak Akurat

Hendro, petugas Jasamarga yang saya temui di kantornya, mengakui alat pembaca kartu nontunai yang dipasang di GTO tersebut belum canggih. “Kadang masih salah mendeteksi kendaraan yang masuk itu termasuk Gol I atau Gol II,” kata Hendro.

Untuk kasus saya, ternyata mesin mendeteksi kendaraan masuk Golongan II, padahal saya mengemudikan mobil pribadi yang masuk Golongan I. Ini terjadi karena sebelum saya ada kendaraan Gol II yang lewat dan belum ter-reset di sensornya. Maka, begitu keluar di GTO lain, tarif yang dibebankan otomatis ya Gol II.

Jika ketika masuk tol pengemudi menyadari dikenakan tarif yang tidak sesuai dengan golongannya, saat itu juga bisa langsung komplain ke pengelola tol.

Masalahnya, saat masuk antrean padat, fokus pengemudi hanya pada palang pintu GTO saja. Begitu palang naik ke atas, langsung tancap gas. Kalaupun ada masalah di pintu masuk GTO, belum tentu juga tertangani dengan cepat. Karena sekarang di setiap GTO enggak ada manusianya. Mau bengok-bengok (teriak-teriak) ke petugas… ya repot. 

Tekan klakson ya bising. Yang jelas, kalau kendaraan di belakang gak sabaran, kita yang malah di-klaksoni. Lantaran antrean di belakang berjubel. Ribet pokoknya.

Ternyata, kasus salah golongan, seperti yang saya alami tidak tunggal. Bukan saya saja ternyata. Petugas menunjukkan beberapa lembar Berita Acara kejadian serupa. Persis seperti yang saya alami. Dan para pengemudi itu juga menyempatkan memberikan masukan dan info serta bukti fisiknya ke pengelola Tol.

Tombol Darurat

Solusi pertama mengatasi situasi darurat di GTO, tentunya menempatkan petugas yang standby setiap waktu. Sewaktu-waktu terjadi masalah bisa langsung diatasi. Ini sudah dilaksanakan pengelola tol secara insidental.

Solusi lain. siapkan Tombol Darurat (bukan tombol Tekan Struk E Toll lho). Jika ditekan, maka petugas jaga akan segera meluncur ke lokasi dan mengarahkan atau membantu masalah dan kesulitan yang dihadapi pengguna jalan tol. Saat ini, masih sering dijumpai palang pintu GTO yang macet saat kartu E Toll ditempel ke mesin.

Akhir cerita, Tol Trans Jawa sudah terhubung antara Jakarta sampai Grati Pasuruan. Bahkan ternyata sudah sampai Leces Probolinggo, lebih ke timur lagi dari Pasuruuan. Pembangunan infrastruktur ini penting tidak hanya untuk sekarang tapi juga untuk masa yang akan datang. 

Saya sangat yakin, adanya infrastruktur berupa jalan tol ini akan mampu membantu mempercepat geliat pembangunan sektor ekonomi, industri, pariwisata, jasa yang melibatkan seluruh komponen masyarakat.

Saya pribadi sangat salut dan bersyukur adanya jalan tol ini.

Maka, siang itu, setelah semua klir, Pak Hendro mengembalikan kelebihan tarif tol 16 ribu. Lumayan buat beli bakso….

Tinggalkan Balasan