Uang elektronik atau U-Nik makin menarik publik. Pada semester I 2019, nilai transaksinya melonjak hingga 171 persen dibanding semester I tahun sebelumnya.

Pada rentang Januari-Juni 2019, ada duit sebesar Rp56,1 triliun yang dipertukarkan dalam transaksi elektronik. Uang sebesar itu berpindah dalam 2,26 miliar kali transaksi. Tahun lalu, pada rentang yang sama, ‘hanya’ Rp20,66 triliun yang ditransaksikan secara elektronik, yang tersebar dalam 1,24 miliar transaksi. 

Menurut data yang diolah dari Bank Indonesia, tren transaksi elektronik melonjak terus. Sepanjang tahun 2018, ada Rp47,2 triliun yang berpindah dalam 2,92 miliar transaksi. Jumlah itu melonjak 281 persen jika dibandingkan tahun 2017, yang hanya mencapai 943 juta transaksi sebesar Rp12,37 triliun.

Duit transaksi elektronik ini makin banyak diadopsi seiring dengan makin maraknya layanan nontunai dan e-commerce. Misalnya layanan tol, pembayaran SIM (Surat Izin Mengemudi), atau transportasi publik. Atau juga maraknya ojek online serta platform jual beli online.

Ilustrasi Polisi menunjukkan sejumlah layanan pembayaran elektronik dalam pelayanan SIM Keliling (foto: ANTARA)

Menurut data Bank Indonesia pada 2013, volume transaksi nontunai hanya sebesar 39,44 persen dari total transaksi, sedangkan transaksi tunai masih mendominasi 60,56 persen.

Bank Indonesia mencanangkan gerakan nontunai, pada Agustus 2014. Gubernur Bank Indonesia saat itu, Agus Martowardojo menyatakan, gerakan nontunai ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen non tunai.

“Sehingga berangsur-angsur terbentuk suatu komunitas atau masyarakat yang lebih menggunakan instrumen nontunai (Less Cash Society/LCS) khususnya dalam melakukan transaksi atas kegiatan ekonominya,” ujarnya.

Lima tahun kemudian, porsi transaksi nontunai mendominasi jadi 60,6 persen. Sedangkan transaksi tunai 39,93 persen.
Dengan makin maraknya nontunai, bisa menghemat biaya cetak dan pemeliharaan uang tunai. Bank Indonesia memperkirakan, biaya cetak dan distribusi uang tunai per tahun mencapai. Selain itu, uang kartal pecahan kecil paling cepat rusak dan harus dihancurkan. Tiap tahun rata-rata uang yang harus dihancurkan sekitar Rp5-7 miliar.

Sejak saat itu, jumlah pemain uang elektronik bertambah. Hingga berita ini ditulis, Bank Indonesia sudah mengeluarkan izin kepada 38 Penerbit Kartu Elektronik. Baik kepada bank atau lembaga nonbank. Tahun ini saja, ada tiga penerbit baru. Mereka adalah LinkAja, OttoCash, dan Zipay.

Selama ini, uang elektronik dibedakan menjadi dua jenis, yakni berbasis chip dan berbasis server. Perusahaan financial technology (fintech) saat ini menjadi pemenang dalam transaksi duit elektronik berbasis server.

“Untuk yang berbasis server 99,8 persen pasar dikuasai oleh nonbank (fintech) sedangkan sisa 0,2 persen baru dikuasai bank,” kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Filianingsih Hendarta.

Tinggalkan Balasan