Bank Indonesia mencatat, selama triwulan ketiga tahun 2018, transaksi ritel nontunai menggunakan uang elektronik (Unik) tumbuh lebih dari 300 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tingginya pertumbuhan transaksi uang elektronik ini didorong oleh menguatnya preferensi masyarakat dalam bertransaksi melalui aplikasi teknologi finansial (tekfin) atau financial technology (fintech) yang industrinya tumbuh pesat sepanjang tahun ini.

Data tersebut diungkapkan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2018 yang digelar BI, Senin (27/11) lalu.

Sementara itu, transaksi ritel nontunai secara keseluruhan dengan menggunakan kartu kredit, kartu debit dan uang elektronik pada triwulan III 2018 tumbuh sebesar 12,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Dari sisi sistem pembayaran nontunai wholesale, rata-rata harian nominal transaksi BI Real Time Gross Settlement (RTGS) menurun sebesar 2,3% (yoy). Sementara pada sistem pembayaran ritel, rata-rata harian nominal kliring melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) tumbuh 7,3% (yoy),” ungkap Perry.

Kinerja positif tersebut tidak lepas dari sinergi kebijakan yang kuat antara pemerintah, BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Antara lain kebijakan mempercepat elektronifikasi pembayaran nontunai di berbagai area seperti elektronifikasi penyaluran program sosial pemerintah, moda transportasi, dan operasi keuangan pemerintah, khususnya di berbagai provinsi.

Dukungan terhadap ekonomi dan keuangan digital, demikian Perry, ditempuh melalui penerbitan ketentuan uang elektronik dan pengembangan tekfin, khususnya di bidang sistem pembayaran.

Tahun depan, Bank Indonesia akan terus memperluas jangkauan program elektronifikasi sistem pembayaran, khususnya untuk penyaluran bantuan sosial, pembayaran berbagai moda transportasi, serta dukungan operasi keuangan pemerintah.

Tinggalkan Balasan