Tantangan Transaksi Nontunai di Indonesia

Oleh: Remon Samora

Transaksi non tunai memberikan kita berbagai kemudahan. Di samping meminimalkan risiko tindak kejahatan, seperti pencurian dan uang palsu, penggunaan alat pembayaran nontunai juga memudahkan para pelaku usaha UMKM untuk mencatat semua transaksi keuangan.

Hal tersebut pada akhirnya akan memudahkan mereka untuk mengajukan pinjaman ke industri jasa keuangan sebagai modal ekspansi usaha. Bagi konsumen sendiri, kehadiran alat pembayaran nontunai akan membuat transaksi pembayaran menjadi lebih aman, mudah dan cepat.

Meskipun menjanjikan banyak kelebihan, namun kenyataannya belum banyak masyarakat yang menggunakan transaksi non tunai dalam kehidupan sehari-hari. Hasil survei Bank Indonesia (BI) tahun 2013 menunjukkan masih tingginya transaksi tunai masyarakat Indonesia dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN. Sebagai perbandingan, 55,5% transaksi eceran di Singapura dilakukan secara tunai, jauh lebih rendah dibanding Indonesia yang mencapai 99,5%. Jumlah ini masih lebih tinggi dibandingkan Thailand (97%) dan Malaysia (92%).

Selain karena budaya masyarakat yang masih lekat pada penggunaan uang tunai, ketersediaan infrastruktur pembayaran yang belum optimal juga ditengarai sebagai salah satu faktor penyebabnya. Kita masih melihat kualitas jaringan komunikasi di beberapa titik daerah yang tidak merata. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus diselesaikan antara pemerintah dan para pelaku usaha lintas sektor.

Kabar baiknya ialah kemajuan teknologi saat ini memungkinkan segala sesuatunya bisa terjadi sehingga berbagai kendala di atas bukan lagi menjadi masalah utama. Terobosan itu bernama kartu elektronik berbasis server (server based e-money) yang telah menggunakan teknologi NFC (Near Field Communication). Jenis e-money tersebut diterbitkan perusahaan operator seluler (telco). Beberapa di antaranya mungkin sudah cukup familiar di telinga kita, yaitu Tcash oleh Telkomsel, Dompetku oleh Indosat Ooredoo dan XL Tunai oleh XL Axiata.

Berbeda dengan jenis e-money berbasis chip yang diterbitkan oleh perbankan, e-money telco dapat difungsikan, baik dengan mesin tap maupun handphone. Sederhananya, transaksi transfer pada e-money telco mirip transfer pulsa ke nomor orang lain, namun bedanya pengguna dapat mencairkan saldo dana menjadi uang tunai di beberapa tempat tertentu. Kelebihan lain ialah biaya transaksi yang murah, bahkan gratis dan aksesibilitas pengguna handphone yang luas. Apalagi dengan semakin terjangkaunya harga handphone, maka teknologi NFC niscaya bukanlah sesuatu yang eksklusif di masa depan.

Edukasi dan insentif

Meskipun menjanjikan banyak keunggulan, tapi harus diakui implementasi e-money telco tidaklah mudah. Bukan karena enggan mencoba sesuatu yang baru, namun akar permasalahan justru terletak pada ketidaktahuan masyarakat tentang informasi produk. Dari sisi makro, peran BI sebagai otoritas sistem pembayaran tentu tidak terelakkan.

Di samping aktif mengkampanyekan Gerakan Nasional Non Tunai, BI juga mendorong pemberian insentif berupa pengurangan pajak, serta meminta industri keuangan memberikan reward pada nasabah yang memakai alat pembayaran nontunai.

Bagi perusahaan telco sendiri, setidaknya ada 3 langkah inisiatif untuk mengembangkan bisnis ini. Pertama, ekspansi promosi di bandar udara internasional yang menjadi pintu masuk utama wisman. Selain gencar memasarkan produk kartu SIM card baru, perusahaan telco dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk menawarkan produk e-money.

Kedua, promo khusus bagi para calon merchant potensial. Belajar dari kisah kesuksesan perusahaan startup di bidang transportasi dalam menjaring konsumen baru, tentu disadari bahwa insentif merupakan stimulus yang jitu dalam memperkenalkan produk dan layanan terbaru kepada konsumen. Semakin banyak merchant yang menggunakan e-money, maka sedikit demi sedikit para pembeli juga akan terdorong menggunakan produk tersebut.

Ketiga, perluasan kerja sama dengan pihak ketiga sebagai tempat penarikan saldo dana milik konsumen. Perusahaan telco dapat menjajaki kemungkinan penggunaan model bisnis agen Layanan Keuangan Digital (LKD) yang telah diimplementasikan oleh lembaga perbankan. Bahkan, bisa jadi merchant individual yang telah menggunakan e-money telco juga dapat menjadi tempat penarikan saldo dana konsumen.

Tidak dapat dipungkiri bahwa transaksi no tunai akan menjadi tren di masa depan, terutama dalam konteks pengembangan smart city. Banyak hasil kajian BI menunjukkan bahwa kehadiran transaksi nontunai akan mendorong terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Oleh sebab itu, sinergi seluruh pihak terkait adalah kunci utama untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut.

Penulis adalah Analis di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah.

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan beri komentar!
Masukkan nama Anda di sini