Serunya Hidup Tanpa Uang Tunai di Negeri Swedia

Sekitar 8 mesin cashierless disediakan untuk pembayaran tanpa kasir di sebuah supermarket. (Marlodieka)

Oleh: Marlodieka

Bagi pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di Swedia, mungkin istilah “cashless society” atau masyarakat tanpa transaksi tunai udah nggak asing lagi. Kalau rajin baca berita dari negara kita, hal ini menjadi salah satu wacana yang tak henti-hentinya dibahas di media-media tanah air.

Pemerintah Indonesia saat ini juga sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT), atau bisa dikenal juga dengan “cashless society”. Isu hangat tersebut berkisar dari biaya isi ulang kartu emoney atau uang elektronik (Unik), pembebasan biaya penggunaan kartu kredit, hingga pemberlakuan pembayaran non-tunai di hampir semua jalan tol di Indonesia.

Uang merupakan salah satu sistem pembayaran yang terus berevolusi mulai dari bentuk koin dan uang kertas, cek/giro, kartu kredit/ATM, Unik, e-wallet (dompet elektronik) hingga virtual currency seperti bitcoin. Dengan perkembangan zaman yang sangat cepat, sistem pembayaran nontunai memiliki banyak keuntungan, seperti lebih praktis karena nggak perlu repot bawa uang tunai untuk bertransaksi.

Di Indonesia, penggunaan Nontunai baru 31% dari total transaksi tunai. Sedangkan di Swedia sudah mencapai 89%. (katadata)

Selain itu, biaya transaksi secara nontunai atau cashless juga tidak mahal dan bisa memudahkan kita dalam memantau histori transaksi.

Berdasarkan Digital Money Index 2017, kesiapan cashless atau digital money suatu negara ditentukan oleh faktor-faktor antara lain dukungan pemerintah dan pasar, infrastruktur teknologi dan finansial, kemudahan penggunaan nontunai dan juga kecenderungan masyarakatnya untuk beradaptasi.

Dalam indeks ini, Swedia merupakan negara di kawasan Nordic dengan peringkat tertinggi di antara Denmark, Norwegia dan Finlandia dalam hal kesiapan dan pelaksanaan digital money serta menjadi peringkat keenam di dunia. Saat ini masyarakat Swedia sudah cukup terbiasa menggunakan sistem non-tunai di hampir seluruh transaksi, mulai dari belanja di supermarket sampai beli es krim di kedai pinggir jalan.

Sebagaimana dilansir media online The Guardian, The Riksbank atau Bank Sentral Swedia, mengungkapkan bahwa nilai transaksi tunai di Swedia pada tahun 2015 tidaklah lebih dari 2% jika dihitung dari total keseluruhan transaksi di negara tersebut. Hingga tahun 2020, transaksi tunai di Swedia pun ditargetkan hanya mencapai 0,5% dari total transaksi.

Sederet aplikasi nontunai di Swedia. (Marlodieka)

Pusat perbelanjaan maupun pertokoan di Swedia juga hanya menunjukkan nilai transaksi tunai kurang dari 20%, cukup jauh di bawah rata-rata transaksi tunai secara global, yaitu 75%. Hal yang lebih mengejutkan lagi, ternyata sebanyak 900 dari 1600 bank di Swedia sudah tidak menyimpan uang tunai maupun melayani setoran uang tunai.

Hidup tanpa uang tunai

Sebagai pelajar yang merantau untuk belajar ke luar negeri, khususnya Swedia, hidup tanpa uang tunai merupakan proses penyesuaian terhadap nilai-nilai budaya setempat. Di masa awal hidup di Swedia, saya sempat cukup lama menyimpan uang tunai dalam bentuk Swedish Krona (SEK) di dalam dompet. Namun, dengan banyaknya transaksi yang dilakukan secara nontunai di berbagai tempat, saya pun memutuskan untuk tidak lagi menyimpan uang tunai dalam jumlah yang terlalu banyak.

Biasanya saya menyimpan sekitar 50-100 SEK saja untuk beberapa toko yang masih membutuhkan uang tunai walau nyatanya bisa tidak terpakai sampai berhari-hari karena jarang dibutuhkan. Hidup di negara yang serba cashless, kuncinya adalah memiliki rekening bank. Mulai dari belanja di supermarket, bayar taksi, isi ulang kartu transportasi, isi ulang pulsa, makan di kantin kampus, semua dilakukan dengan kartu debit/kredit bank baik Visa maupun Mastercard dengan sistem PIN yang kurang lebih hampir sama dengan di Indonesia.

Toko-Tanpa-Kasir

Salah satu hal yang membuat sistem nontunai (cashless system) di Swedia berbeda dengan Indonesia adalah penggunaan aplikasi di ponsel sebagai sistem pembayaran. Konsepnya sama seperti aplikasi transportasi daring yang sedang sangat digemari masyarakat Indonesia saat ini (Go-Jek atau GrabBike), namun bedanya kita menggunakan aplikasi tersebut untuk transportasi umum seperti bus atau kereta.

Naik bus ataupun kereta, cukup pakai aplikasi Skanetrafiken yang memanfaatkan teknologi QR Code. (Marlodieka)

Caranya cukup dengan memanfaatkan sistem online banking dan mendaftarkannya pada aplikasi, tiket dapat langsung dibeli dalam bentuk QR code yang nantinya bisa dipindai pada QR reader di dalam bus atau kereta. Bahkan untuk kereta jarak jauh milik Swedia yang bernama SJ, kita tidak perlu repot untuk mencetak tiket karena QR code bisa ditunjukkan selama pemeriksaan tiket.

Hal yang sama berlaku untuk nonton film di bioskop, cukup beli lewat aplikasi SF Bio dan kita tinggal mencetaknya sendiri di mesin yang ada di bioskop. Berbelanja di supermarket pun bisa dilakukan secara mandiri dengan self-scanning di cashier-less store alias toko-tanpa-kasir.

Mesin cetak tiket bioskop seperti ini melengkapi kenyamanan transaksi nontunai untuk nonton di bioskop. (Marloedika)

Hampir semua supermarket di Swedia memiliki cashier-less store seperti ICA, WILLY’s, COOP sampai IKEA dimana mayoritas merchant tersebut hanya menyediakan pembayaran menggunakan kartu debit/kredit.

This slideshow requires JavaScript.

Transfer Uang ke Nomor Ponsel

Bank-bank di Swedia tidak memiliki sistem transaksi dengan uang elektronik seperti di Indonesia, namun Swedia punya SWISH, aplikasi mobile payment (pembayaran via ponsel) untuk transaksi antar nomor ponsel. Konsepnya cukup sederhana, yaitu transfer ke sesama nomor telepon (person to person payment) secara real-time dan terkonfirmasi.

Saat ini, SWISH menjadi mobile payment paling populer di sini, dapat digunakan untuk berbagai macam pembayaran di beberapa toko, restoran, kedai kopi, street food sampai ongkos potong rambut.

SWISH juga menjadi sangat praktis digunakan untuk shared expense seperti patungan makan di luar bersama teman-teman karena kamu bisa transfer dengan nominal-nominal ganjil seperti 63 SEK atau 47 SEK, sesuai dengan harga yang harus dibagi per orangnya. Oh iya, transaksi tersebut juga bebas biaya loh!

Contoh transaksi menggunakan aplikasi SWISH (Marlodieka)

Nontunai Sangat Aman

Kalo teman-teman penasaran dan bertanya-tanya tentang keamanan transaksi non-tunai di Swedia, jawabannya adalah sangat aman.

Di Swedia, semua transaksi pembayaran membutuhkan verifikasi dengan token digital maupun dalam bentuk aplikasi bernama BankID. BankID memiliki konsep yang mirip dengan token, bedanya BankID tersedia dalam bentuk aplikasi saja.

Semua transaksi mobile banking dan SWISH membutuhkan verifikasi melalui BankID. One app to verify all transactions! Verifikasi bisa dilakukan menggunakan PIN atau melalui pindai jari (fingerprint scan) untuk pengguna ponsel dengan teknologi Finger Scanner atau Touch ID.

Setahun di Swedia membuat saya merasakan banyaknya kemudahan sistem non-tunai. Awalnya memang gak biasa, namun ketika sudah merasakan manfaatnya, ternyata transaksi nontunai sangatlah memudahkan hidup saya. Semua transaksi dapat tercatat dengan mudah sehingga saya tau pengeluaran setiap waktunya.

Harapan saya, semoga ketika kembali ke tanah air, sistem non-tunai sudah mulai disosialisasikan dengan baik sebagaimana banyaknya negara-negara maju di mana ‘cashless is king’. 🙂

Cerita ditayangkan pertama kali di PPI Swedia oleh Marlodieka, Master of Science in Strategic Communication, Lund University – Campus Helsingborg.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan beri komentar!
Masukkan nama Anda di sini