Penerima Bansos Non Tunai: “Baru Kali ini Saya Pegang Kartu ATM”

Selama hidupnya, Ana (34) belum pernah memegang kartu debit yang bisa dipakai untuk tarik uang di Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Ibu dengan tiga anak itu sebelumnya hanya mengenal uang tunai untuk bertransaksi setiap hari. Dia pun mengaku tidak pernah ke ATM. Mesin yang mudah ditemukan di pinggir jalan raya itu masih asing buat dirinya.

Saat menerima bantuan dalam bentuk kartu ATM dari Kementerian Sosial, Senin (14/11) pagi, perasaannya campur-aduk. “Senang sekali. Baru kali ini saya pegang kartu ATM. Saya juga belum pernah ke ATM ambil uang, semoga nanti bisa ambil sendiri,” kata ibu yang sehari-hari membantu suaminya membuat dandang untuk dijual.

Ana adalah potret masyarakat kurang mampu yang belum tersentuh akses layanan perbankan. Warga Desa Kesambi, Kecamatan Porong, Sidoarjo, itu merupakan satu dari 9.913 orang penerima bantuan sosial nontunai Program Keluarga Harapan (PKH) tahap ke-3.

Usaha yang dirintis suaminya menghasilkan pendapatan rata-rata dua juta Rupiah per bulan. Uang ini diakuinya tidak cukup untuk biaya kebutuhan sehari-hari keluarganya, termasuk membiayai sekolah ketiga anaknya yang masih duduk di bangku TK, SMP dan SMA.

“Adanya uang bantuan PKH ini bisa saya gunakan untuk bayar sekolah dan beli susu untuk anak-anak,” ungkapnya sambil menunjukkan kartu debit berwarna merah putih bergambar peta Indonesia yang diterbitkan oleh BNI.

Perasaan haru dan penuh suka cita juga  melingkupi hati para ibu penerima bantuan lainnya yang tadi pagi mendapat bantuan lewat alat transaksi nontunai di Pendopo Kecamatan Porong.

Ibu Uripah (45), warga Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, mengaku terharu saat menerima Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang juga berfungsi sebagai kartu ATM.

“Sempat bingung dan ragu kira-kira bisa apa tidak. Tapi alhamdulillah ada pendamping PKH jadi bisa minta diajari menggunakan kartunya,” kata Siti Badriyah, penerima bantuan lainnya.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat mengungkapkan, mulai tahun 2016 ini, bantuan sosial PKH disalurkan secara nontunai. Dalam program ini, Kemensos bekerja sama dengan Himpunan Bank-Bank Milik Negara (HIMBARA).

“Melalui pencairan bansos nontunai berbasis keuangan inklusif, penerima manfaat PKH kini tidak menerima uang tunai, tapi dalam bentuk tabungan. Lebih mudah dan praktis. Tinggal gesek kartunya. Ibu-ibu juga bisa menabung dengan kartu ini,” ujar Harry.

Penerima Bansos Non Tunai
Penerima Bansos Non Tunai

Total bantuan sosial PKH 2016 untuk Kabupaten Sidoarjo adalah sebesar Rp18.143.470.000 yang didistribusikan kepada hampir 10 ribu keluarga.

“Secara nasional, jumlah dana yang telah dibukakan rekening dan dialihkan ke e-wallet adalah 392.363 penerima dari 695.492 penerima, senilai Rp134.3 miliar,” demikian Harry.

Sementara  jumlah yang sudah disalurkan dan diterima kartu PKH sebanyak 57.003 orang, senilai Rp20.18 miliar, sebanyak 9 persen di antaranya ditabungkan, lanjutnya.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here