Sejak seminggu lalu, masyarakat dihebohkan oleh kabar pencurian uang dengan teknik skimming. Selain Nasabah BRI, nasabah Bank Mandiri juga mengalami pencurian dengan teknik yang sama. Senin (19/30) lalu, puluhan nasabah Mandiri mendatangi kantor cabang di gedung Graha Pena Surabaya.

Jumlah korban di Bank Mandiri jauh lebih banyak dibanding korban di BRI (Bank Rakyat Indonesia). Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga hari ini jumlah korban di Bank Mandiri yang terdata mencapai 141 nasabah dengan total kerugian Rp 260 juta.

Baca juga: Mengenal “Skimming”, Aksi Pencurian yang Menyasar Kartu Nontunai Berteknologi Pita Magnetik

Pelaku melancarkan aksinya di dua unit mesin ATM yang berlokasi di Surabaya dan dua unit ATM di Yogyakarta. Kepada Kontan, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Slamet Edy Purnomo menjelaskan bahwa Bank Mandiri telah berhasil mencegah rencana pelaku skimming dan menangkap pelakunya.

Kerugian yang dialami oleh para nasabah yang menjadi korban juga telah diganti oleh Bank Mandiri.

Skimmer BRI Dipasang di 5 Kota

Senin (12/3) lalu, 16 orang nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Ngadiluwih, Cabang Kabupaten Kediri, Jawa Timur, juga kehilangan uang di rekening mereka dengan nominal 500 ribu sampai 10 juta Rupiah. Mereka merupakan korban kejahatan skimming.

ATM BRI (infoperbankan.com)

Saat ini para pelaku sudah ditangkap polisi. Seperti dilaporkan Tribunnews, empat dari lima pelaku merupakan warga negara asing berkebangsaan Budapest dan Rumania. Mereka adalah Ferenc Hugyec (Budapest), Caitanovici Andrean, Raul Kalai, Ionel Robert (Rumania), dan seorang warga Bandung bernama Milah Karmilah.

Komplotan penjahat itu sudah beroperasi sejak pertengahan 2017 lalu dengan cara memasang skammer (alat untuk menduplikasi data kartu nontunai) di beberapa kota. Wilayah sasaran mereka adalah Bali, Bandung, Yogyakarta, Tangerang dan Jakarta.

“Data yang didapat dari alat skimming digandakan di kartu atm kosong. Lalu digunakan dengan cara datang ke atm dan menarik uang nasabah,” ujar Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Aris Supriyono kepada Tribunnews.

Polisi menyita barang bukti dari pelaku, di antaranya 1.447 kartu debit/ATM yang telah diisi dengan data curian, 6 SD Card, dan sejumlah skammer. Mereka diketahui sudah menyiapkan data nasabah dari 64 bank.

Bank BRI sendiri sudah memberikan uang ganti rugi sebesar Rp 145 juta kepada 33 nasabah yang menjadi korban.

Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan BRI, Bambang Tribaroto menjelaskan, penarikan uang terhadap 33 nasabah tersebut dilakukan di Jerman dan Spanyol, padahal pemilik rekening aslinya tidak pernah melakukan transaksi tersebut.

“Ternyata transaksi yang bermasalah ini ada di luar negeri. Kartu dan pinnya diduplikasi, jadi bisa dipakai di tempat lain dan kebetulan ini ada di luar negeri semua,” ungkap Bambang seperti dikutip Tirto.

Amankan kartu kredit Anda. Jangan beritahukan nomor cvv nya

Masyarakat Resah

Banyaknya korban kejahatan skimming telah menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Hal ini terlihat dari aksi blokir rekening yang dilakukan oleh nasabah Bank Mandiri di Surabaya.

KOMPAS.com melaporkan, Kantor Cabang Pembantu Bank Mandiri di Gedung Graha Pena Surabaya didatangi banyak nasabah yang beramai-ramai memblokir rekening karena khawatir jadi korban skimming berikutnya.

Sebelumnya, beberapa hari setelah kasus skimming di Kediri mencuat, sebuah pesan berantai menyebar di media percakapan, berisi ajakan agar nasabah BRI segera menarik uangnya.

Informasi dan ajakan liar itu tentu saja meresahkan masyarakat. Pihak BRI langsung mengklarifikasi bahwa yang terjadi bukan serangan massal terhadap sistem bank, melainkan karena ada pencurian yang dilakukan dengan teknik skimming.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, nasabah dihimbau untuk:

  • Segera mengganti nomor PIN atau kata kunci (password) internet banking.
  • Mendatangi kantor cabang bank terdekat untuk melakukan pencetakan uang.
  • Melaporkan langsung ke pihak bank apabila saldo di rekeningnya berkurang tiba-tiba.

Leave a Reply