Menyongsong Era Kepunahan Karyawan Bank

Ilustrasi karyawan bank. (pixabay.com)

Oleh: Jusman Dalle

Gurihnya bisnis keuangan yang dilakoni oleh perbankan kini dibayang-bayangi ancaman yang mengintai. Semua bermula dari revolusi digital. Sektor keuangan termasuk yang diprediksi bakal terguncang oleh terobosan teknologi digital yang kini merambah industri keuangan.

Selain peran bank yang mulai disusupi oleh perusahaan berbasis teknologi yang familiar kita sebut fintech (perusahaan jasa keuangan berbasis teknologi), ancaman juga menghampiri karyawan bank.

Dalam lima tahun ke depan, 30% pekerjaan di bank bisa menghilang. Demikian prediksi Vikram Pandit, bekas bos Citi Group. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengamini prediksi itu. OJK mulai mengumpulkan data pegawai perbankan untuk kajian sertifikasi yang diperlukan di masa mendatang. Sertifikasi ditempuh untuk memetakan kebutuhan tenaga keuangan di era digital.

Lain lagi dengan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN). Bank swasta yang menyasar para pensiunan ini malah mempersilakan karyawannya pensiun dini secara sukarela. BTPN bahkan mengaku bakal memfasilitasi mereka yang akan pensiun dengan diberikan pelatihan untuk menghadapi kehidupan pascapensiun.

Bisa ditebak, alasan BTPN mempersilahkan karyawan pensiun karena bank ini akan fokus mengembangkan digital banking dan memangkas jumlah karyawan secara besar-besaran.

Fakta mengejutkan juga datang dari Bank Mandiri dan Bank BCA. Elektronifikasi dan digitalisasi di kedua bank tersebut sukses menciptakan operational cost efficiency hingga angka 46%.Bank Mandiri mengakui, saat ini transaksi nasabah yang langsung ke kantor cabang tinggal 6%, sebesar 94% bertransaksi di e-channel atau saluran elektronik. Demikian pula pengakuan Santoso, Direktur BCA, bahwa transaksi langsung bahkan hanya tersisa 3% saja. Selebihnya, nasabah mereka beralih ke elektronik dan digital banking.

Ini semua artinya apa? Pekerjaan karyawan bank akan semakin terkikis, diakuisi oleh aplikasi. Elektronifikasi dan digitalisasi tak terbendung lagi. Sebab selain bermanfaat bagi efisiensi industri, juga jadi opsi primer nasabah yang tidak mau ribet menguras waktu dan energi ke kantor-kantor cabang, antre berjam-jam.

Bank DBS merupakan bank lain yang juga serius menyelami digitalisasi. Tidak seekstrem BTPN, bank yang berpusat di Singapura ini tak mewacanakan pensiun dini. Sebaliknya, DBS mengarahkan karyawan untuk melek teknologi dan menjadi bagian dari karyawan yang mendatangi nasabah digital DBS.

Seperti diberitakan, belum lama ini DBS meluncurkan Digibank. Yaitu layanan digitalisasi perbankan yang mengusung slogan “Paperless dan signature less”. Dalam layanannya ini, DBS meniadakan penggunaan kertas dan tanda tangan yang lazim kita jumpai ketika bertransaksi di bank. Inovasi ini betul-betul berbasis aplikasi di Android dan iOS yang bernama Digibank.

Digibank membenamkan banyak fitur menarik di dalam aplikasi tersebut. Termasuk mengadopsi teknologi artificial intelligence (AI). Digibank berkolaborasi dengan fintech rintisan Amerika Serikat, Kasisto, dalam mengembangkan teknologi AI untuk layanan Virtual Assistant. AI sebagai customer service membantu dan menjawab pertanyaan pelanggan sepanjang 24 jam dalam Bahasa Indonesia. Asisten virtual ini juga akan mampu bertugas dalam membantu setiap transaksi.

Untuk keperluan tertentu yang mengharuskan tatap muka dengan pegawai bank, seperti membuka rekening, Digibank menyediakan fitur bernama otentifikasi bimetrik. Nasabah dapat meminta untuk bertemu agen Digibank di lokasi yang nyaman untuk menyelesaikan otentikasi biometrik tersebut demi jaminan keamanan dan kepraktisan. Digibank mengklaim, ini sebagai upaya memberikan kenyamanan sehingga nasabah tidak perlu datang antre di bank.

Bagi industri perbankan, adopsi teknologi sudah pasti menguntungkan secara bisnis. Sementara nasabah, dimudahkan dengan layanan digital. Urusan perbankan lebih praktis, aman dan efektif serta juga efisien. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, kita berurusan bank dengan tanpa harus datang ke bank. Semua selesai dalam genggaman.

Maka kekhawatiran para futuris ihwal bakal semakin tersingkirnya peran manusia oleh digitalisasi, memang bukan isapan jempol lagi. Ancaman itu sudah di depan mata. Profesi karyawan bank bakal punah digantikan oleh aplikasi dan kecerdasan buatan yang dibenamkan di dalamnya.

Tapi sebetulnya masih ada peluang di balik digitalisasi tersebut. Yaitu menjadi ahli AI hingga praktisi IT yang memegang kendali kerja dari sebuah aplikasi. Meskipun kebutuhannya tak sebanyak karyawan back office. Digitalisasi memang bertabur kenyamanan, tapi ada konsekuensi yang harus dibayar untuk itu. Dan kini, giliran para karyawan bank yang siap-siap membayar dampak digitalisasi di sektor perbankan.

Tulisan ini ditayangkan pertama kali di Kompasiana oleh Jusman Dalle, praktisi digital marketing dan ekonomi digital.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan beri komentar!
Masukkan nama Anda di sini