Bangsa Indonesia memiliki banyak pahlawan. Dari sekian banyak pahlawan yang ada, Bank Indonesia mengabadikan 12 pahlawan yang dianggap memiliki sumbangsih besar terhadap kemerdekaan Republik Indonesia ke dalam 11 denominasi uang Rupiah baru.

Uang Rupiah Tahun Emisi 2016 yang diterbitkan Bank Indonesia ini terdiri atas tujuh denominasi berbahan dasar kertas dan 4 denominasi dalam bentuk logam (koin).

Para pahlawan ini berasal dari beragam latar belakang, mulai dari politisi, ilmuwan, kiai, aktivis sampai tentara.

Yuk kita kenang sejenak jasa-jasa mereka semasa hidupnya, dan bagaimana mereka layak disebut sebagai Pahlawan Nasional.

Seokarno, Hatta, Djuanda (Bank Indonesia)

Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta
Denominasi Rp 100.000

Inilah dua sosok pahlawan paling terkenal di Indonesia, Dwi Tunggal, Dua Proklamator, yang membacakan naskah proklamasi di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, Soekarno menjadi presiden yang pertama, sedangkan Hatta wakilnya.

Ir. H Djuanda Kartawidjaja
Denominasi Rp 50.000
Pria kelahiran Tasikmalaya 14 Januari 1911 ini pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia ke-10 (sekaligus yang terakhir). Djuanda memberikan sumbangan terbesar kepada bangsa melalui Deklarasi Djuanda tahun 1957.

Deklarasi ini menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI. Ini dikenal dengan sebutan sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut United Nations Convention on Law of the Sea (UNCLOS).

Dr. G. S. S. J. Ratulangi
Denominasi Rp 20.000
Gubernur pertama Sulawesi ini merupakan seorang aktivis kemerdekaan Indonesia. Ia meninggal di Jakarta dalam kedudukan sebagai tawanan musuh pada tanggal 30 Juni 1949 dan dimakamkan di Tondano.

Ia dikenal dengan filsafatnya “si tou timou tumou tou” yang berarti “manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia”.

Frans Kaisiepo
Denominasi Rp 10.000
Pria berdarah Papua ini terlibat dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membicarakan pembentukan Republik Indonesia Serikat. Ia mengusulkan nama Irian, kata dalam bahasa Biak yang berarti beruap. Ia juga pernah menjabat sebagai Gubernur Papua pada 1964-1973.

Dr. KH. Idham Chalid
Denominasi Rp 5.000
Guru Besar Nahdatul Ulama ini pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR. Selain sebagai politikus ia aktif dalam kegiatan keagamaan dan ia pernah menjabat Ketua Tanfidziyah PBNU pada tahun 1956-1984.

Mohammad Hoesni Thamrin
Denominasi Rp 2.000
Perintis Revolusi Kemerdekaan Indonesia ini merupakan politisi nasional era Hindia Belanda. Thamrin lahir di Weltevreden, Batavia (sekarang Jakarta), dari ayah seorang Belanda dengan ibu Betawi.

Ia dikenal sebagai salah satu tokoh Kaoem Betawi pertama yang menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat), mewakili kelompok Inlanders (pribumi). Thamrin juga salah satu tokoh penting dalam dunia sepak bola Hindia Belanda karena pernah menyumbang 2.000 Gulden di 1932 untuk mendirikan lapangan sepak bola khusus untuk rakyat Hindia Belanda pribumi yang pertama kali di daerah Petojo, Batavia.

Tjut Meutia
Denominasi Rp 1.000
Lahir di Aceh pada tahun 1870, Tjut Meutia banyak melakukan perlawanan terhadap Belanda di banyak pertempuran, salah satunya di pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara.

Pada tanggal 24 Oktober 1910, ia gugur dalam pertempuran melawan Marechausée di Alue Kurieng.

Mr. I Gusti Ketut Pudja
Denominasi Rp 1.000 (logam)
Tokoh kelahiran Bali ini ikut serta dalam perumusan negara Indonesia melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mewakili Sunda Kecil (meliputi Bali dan Nusa Tenggara). I Gusti Ketut Pudja juga hadir dalam perumusan naskah teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Presiden Soekarno lalu mengangkatnya sebagai Gubernur Sunda Kecil.

Letjen TNI T.B. Simatupang
Denominasi Rp 500 (logam)
TB Simatupang pernah diangkat Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia (KASAP) setelah Panglima Besar Jenderal Soedirman wafat pada tahun 1950.

Pria berdarah batak ini menjadi KASAP hingga tahun 1953. Pada waku itu, jabatan KASAP berada di atas Kepala Staf Angkatan Darat, Kepala Staf Angkatan Laut, Kepala Staf Angkatan Udara dan berada di bawah tanggung jawab Menteri Pertahanan.

Dr. Tjipto Mangunkusumo
Denominasi Rp 200 (logam)
Pria kelahiran Jepara ini merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ia adalah tokoh dalam Indische Partij, suatu organisasi politik yang pertama kali mencetuskan ide pemerintahan sendiri di tangan penduduk setempat, bukan oleh Belanda.

Tjipto Mangunkusumo dikenal sebagai “Tiga Serangkai” bersama Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara. Mereka bertiga banyak menyebarluaskan ide pemerintahan sendiri dan kritis terhadap pemerintahan penjajahan Hindia Belanda. Pada tahun 1913, Tiga Serangkai diasingkan ke Belanda akibat tulisan dan aktivitas politiknya, dan baru kembali ke tanah air tahun 1917.

Prof. Dr. Ir. Herman Johannes
Denominasi Rp 100 (logam)
Meski lebih banyak dikenal sebagai pendidik, pria kelahiran Rote ini tercatat pernah berkarier di bidang militer dan guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Herman Johannes juga dikenal sebagai politikus, cendekiawan.

Pada tahun 1946, ahli fisika dan kimia ini diminta membangun sebuah laboratorium persenjataan bagi TNI. Laboratorium Persenjataan yang terletak di bangunan Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Kotabaru ini berhasil memproduksi bemacam bahan peledak, seperti bom asap dan granat tangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here