Melanjutkan ulasan sebelumnya, kali ini saya ingin berbagi pengalaman yang mudah-mudahan bisa menjawab pertanyaan bagaimana sebuah kartu kredit yang mengasyikkan itu tiba-tiba berubah menjadi kartu yang menakutkan.

Kata kuncinya hanya satu, yaitu bunga.

Ketentuan baku yang berlaku di semua kartu kredit adalah: Setiap transaksi yang tidak dibayar setelah tanggal jatuh tempo berlalu, atau dibayar kurang dari jumlah tagihan, akan dikenakan bunga.

Transaksi yang dimaksud adalah pembelian atau pembayaran yang Anda lakukan sebelumnya dan tercetak pada lembar tagihan. Coba Anda lihat lagi lembar tagihan. Di situ tercantum sekian banyak transaksi mulai dari belanja online, belanja di toko tertentu, auto-pay, bayar cicilan sampai biaya kartu tahunan. Setiap transaksi dilengkapi dengan tanggal transaksi atau belanja (sama dengan yang tertera di struk) dan tanggal pembukuan. Tanggal pembukuan bisa sama atau maju beberapa hari setelah tanggal transaksi.

Tapi harap dicatat, saat membayar tagihan bulanan, yang Anda bayar adalah total tagihan, bukan tagihan per transaksi. Sehingga kalau Anda tidak melunasi semuanya, Anda tidak bisa segera tahu tagihan apa yang sudah lunas dan belum lunas.

Saat Anda memutuskan untuk tidak membayar tagihan sama sekali, kartu Anda tidak bisa digunakan–sebagai bentuk pinalti. Tapi kalau tidak melunasi total tagihan, katakan hanya 10 persennya saja, Anda masih bisa menggunakan kartu, tapi tetap berhadapan dengan beban bunga.

Bunganya pun ada dua macam, yaitu bunga per transaksi yang belum dilunasi, dan bunga untuk tunggakan tagihan.

Sepanjang menggunakan kartu kredit, saya tidak pernah melewati tenggat waktu dan selalu bayar lunas, agar tidak ada beban bunga di lembar tagihan bulan berikutnya. Kartu yang saya pegang masih mudah dijinakkan dan belum (mudah-mudahan tidak pernah) berubah menjadi hantu yang menakutkan.

Pernah satu hari saya lupa bayar tagihan. Tenggat waktu sudah lewat beberapa hari. Total tagihan waktu itu tidak seberapa. Tapi karena tahu ada bunga per transaksi yang akan muncul bila pembayarannya telat atau kurang, maka saya buru-buru menelepon costumer service bank untuk mengetahui beban bunga yang sudah muncul di tagihan. Setelah itu, saya melebihkan pembayaran tagihan seperti yang disarankan petugas CS.

Saya pernah menanyakan langsung perihal mekanisme pembebanan bunga ini ke petugas bank. Berhubung ketentuan di tiap bank berbeda, di sini perlu disebut nama bank yang saya maksud, yaitu BCA.

Menurut si petugas bank, setiap kali pelanggan menggesekkan kartu kreditnya untuk belanja, sudah ada beban bunga yang dibebankan atas transaksi tersebut. Hanya saja, selama si nasabah membayar lunas tagihan sebelum jatuh tempo, beban bunga tadi tidak dibukukan ke dalam tagihan (alias digratiskan). Tapi begitu nasabah lalai melunasi hutangnya setelah jatuh tempo, beban bunga sejak hari pertama transaksi itu pun dihitung lalu dibukukan ke dalam tagihan.

“Bunga akan dikenakan atas pembayaran kurang dari saldo baru, terhitung dari tanggal posting sampai dengan adanya pembayaran.” Demikian Buku Panduan Kartu Kredit BCA.

Misalnya, Anda membeli sepatu seharga Rp 450 ribu pada tanggal 3 November dengan kartu kredit, dan langsung dibukukan ke dalam tagihan pada tanggal yang sama. Kalau tagihan itu Anda bayar lunas sebelum jatuh tempo, yang Anda bayar persis sama dengan harga sepatu. Tapi kalau lewat jatuh tempo, Anda dikenakan bunga dari tanggal belanja sampai Anda melunasi tagihan tersebut.

Tapi kalau Anda mengambil uang tunai dengan kartu kredit, itu disamakan dengan meminjam uang ke bank. Bunga pinjaman dikali lama pinjaman langsung dibebankan ke nasabah dan akan muncul di lembar tagihan. Bila Anda terlambat bayar, bank akan mengenakan biaya keterlambatan.

Sebagai ilustrasi, bulan ini Anda memiliki tagihan 2,5 juta rupiah yang berasal dari dua transaksi berbeda. Lalu pada saat membayar tagihan, Anda memilih hanya membayar sepuluh persen dari total tagihan atau sebesar 250 ribu rupiah. Pada bulan berikutnya, Anda tidak hanya dikenakan bunga untuk sisa tagihan sebelumnya sebesar Rp 2.250.000. Tapi dua transaksi belanja yang tertera di tagihan sebelumnya juga harus Anda bayarkan bunganya, dikalikan jumlah hari mulai dari tanggal belanja sampai tanggal pembayaran tagihan sebelumnya.

Dari ilustrasi di atas, sedikitnya ada tiga beban bunga yang menumpuk di tagihan bulan berikutnya. Beban bunga tagihan untuk jangka waktu satu bulan pun jadi cukup besar, katakanlah mencapai 140 ribu rupiah. Dan setiap berganti bulan, akan ada transaksi belanja baru yang Anda lakukan. Sehingga total tagihan sebelumnya ditambah bunga ditambah tagihan bulan berjalan. Totalnya semakin besar dan terus membesar.

Jika keuangan Anda tidak siap menutupinya, maka yang akan terjadi adalah pembayaran sebesar minimum 10 persen lagi. Lalu hitungan bunga di atas akan berulang lagi dengan jumlah yang berlipat. Dan begitu tagihan Anda melebihi limit kredit, Anda dikenakan biaya over limit.

Saya punya beberapa teman yang terjebak dalam pusaran kartu kredit sehingga setiap bulan hanya mampu membayar sepuluh persennya. Anda mungkin punya beberapa teman yang bernasib sama. Atau mungkin Anda sendiri sudah mengalaminya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here