Netizen Indonesia lebih senang cari harga di internet (pixabay.com)

Lebih dari 45 persen masyarakat pengguna internet atau netizen hanya memanfaatkan internet untuk mencari harga. Demikian hasil survei “Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2017” yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Teknopreneur.

Survei penetrasi dan perilaku pengguna internet atau netizen sepanjang 2017 itu mengambil data dari 2.500 responden. Meskipun hampir separuh responden menggunakan internet untuk mencari harga, 32 persen dari mereka juga melakukan pembelian secara online, dan 17 persen lainnya melakukan transaksi perbankan.

Selain itu, fakta menarik lain dari hasil survei tahun ini adalah minimnya netizen orang Indonesia yang mau menggunakan aplikasi berbayar. Penetrasi pengguna aplikasi ponsel berbayar hanya 11,41 persen, sedangkan aplikasi berlangganan hanya digunakan oleh 6,29 persen dari total pengguna internet tanah air.

Hasil survey APJII 2017

Penetrasi internet naik tipis

Bicara soal penetrasi pengguna internet, Sekretaris Jenderal APJII Henri Kasyfi Soemartono memaparkan, dari total 262 juta jiwa, sebanyak 143,26 juta jiwa diperkirakan telah menggunakan internet. Angka penetrasi ini terbilang naik tipis dibanding tahun sebelumnya, 132,7 juta jiwa.

“Pertumbuhan penetrasi internet di Indonesia menurut APJII tak lagi besar karena sudah banyak pengadopsi internet terutama di wilayah urban. Dalam survei tahun lalu, APJII memang mengkategorikan enam pulau yang disurveinya menjadi tiga karakter wilayah yakni rural (daerah terpencil), urban rural (kotatamadya dan kabupaten) dan urban (ibu kota provinsi),” kata Henri pada presentasi hasil survei APJII 2017 di Hardrock Cafe, Jakarta Selatan, Senin (19/2/2018).

APJII mengkategorikan karakter area berdasarkan besaran GDP di suatu daerah. Wilayah Urban merupakan daerah administratif yang sebagian besar GDP berasal dari sektor non-pertanian. Sementara rural-urban merupakan wilayah administratif yang besar GDP seimbang bersal dari sektor pertanian dan non pertanian. Sedangkan wilayah rural adalah wilayah administratif yang sebagian besar GDP berasal dari sektor pertanian.

Penetrasi internet di wilayah urban sudah mencapai 72,41 persen sementara di wilayah urban-rural (wilayah tier kedua) hampir mencapai setengah populasi yakni 49,49 persen. Namun di wilayah rural masih lebih kecil yakni 48,25 persen.

Hasil survey APJII 2017

“Sementara penetrasi di urban sudah cukup tinggi tetapi bagi teman-teman yang berada di rural area dan rural urban tentu untuk menggelar fiber optik di 60 juta rumah di Indonesia itu hampir tidak mungkin. Ke depan kita akan melengkapi kabel dengan satelit untuk menjangkau wilayah pedalaman. Yang melayani adalah seluruh anggota APJII untuk menyeimbangkan penetrasi 70 persen itu ke daerah rural dan rural urban,” Henri melanjutkan.

Pengguna internet terbesar masih didominasi penduduk di Pulau Jawa sekitar 57,70 persen. Diikuti oleh Sumatera yang mengalami adopsi internet sebesar 47,29 persen. Wilayah yang paling sedikit mengalami penetrasi internet berada di Maluku-Papua dengan presentase 41,98 persen.

“Jika dilihat, Jawa menyumbang 58,08 persen dan masih mendominasi. Sumatera hanya menyumbang 19,09 persen saja dari komposisi enetrasi internet. Daerah yang paling rendah menyumbang adopsi internet adalah Maluku-Papua yaitu 2,49 persen. Hal ini bisa jadi meningkat di masa depan dengan selesainya Palapa Ring,” kata Henri.

Jamalul-Izza-Ketua-APJII-2015-2018 Lebih dari 45 Persen Netizen Hanya Cari Harga di Internet www.nontunai.com
Jamalul Izza (dok. apjii)

Ketua Umum APJII, Jamallul Izza menambahkan bahwa Palapa Ring akan meningkatkan penetrasi internet 65-70 persen di Indonesia per 2019. Satelit internet itu sendiri baru akan direalisasikan Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 2020.

“Kalau ada Palapa Ring bisa jadi peningkatan internet lebih besar. Peningkatan bisa sampai 65 sampai 70 persen. Paling tidak 2020 kita coba satelit untuk menyediakan internet untuk daerah terpencil,” kata Jamal.

Tinggalkan Balasan