[su_highlight background=”#228ee4″ color=”#ffffff”]Oleh: Rifki Feriandi[/su_highlight]

‘Yah, tolong transferin dong uang buat kost si Kakak’.

Itu permintaan istriku, saat dia ingat belum bayar uang kost si sulung, sementara dia sedang menjemput si bungsu.

‘Yah, beliin pulsa dong. Yayas gak sempet ke warung’. Ini permintaan giliran dari si kakak – si sulung – yang lagi kuliah dengan kesibukan yang lebih dari wanita karier. Dia kuliah di kota lain, satu setengah jam penerbangan dari Jakarta.

‘Yah, order makan dong buat si Ade. Hujan gede di sini’. Itu permintaan buat si bungsu dari istriku di rumah sementara ayahnya sedang berada jauh di Tasikmalaya.

Atas tiga tipe pertanyaan seperti itu, saya sebagai ayahnya menjawabnya dengan santai dan mantap. ‘Okay’. ‘Siapp!!!’. ‘No worries’.

bill

Kakak minta pulsa | Foto: Rifki Feriandi

Padahal…..dompet si Ayah tipis. Beneran. Si Ayah jarang bawa uang kertas banyak-banyak. Tapi….. Dompet tipis? No worries. Keluarga tidak usah khawatir, karena si Ayah memenuhi permintaan mereka tanpa mengeluarkan uang tunai. Hanya berbekal smartphone – yang layarnya sebenarnya sudah sedikit retak jatuh mulu  – semuanya bisa dipenuhi.

Cara mudah menjalankan amanah

Untuk menjalankan amanah keluarga itu, si Ayah kali itu menggunakan kemudahan berupa aplikasi dari bank yang ada di telepon genggamnya untuk melakukan transaksi tanpa uang tunai. Awalnya si Ayah suka memakai internet banking. Tapi sekarang, mobile banking adalah pilihannya. Dengan aplikasi itu, si Ayah bisa mengirimkan uang (transfer) seperti yang diminta si ibu, atau melakukan pembelian pulsa seperti diminta si Kakak. Pembayaran? Mau bayar tagihan apa, coba? Listrik? Air? Kartu kredit? Atau bahkan pajak? Semua bisa dilakukan melalui mobile banking.

img_4124

Non tunai dalam genggaman | Foto: Rifki Feriandi

Mobile banking atau internet banking dikombinasikan dengan aplikasi-aplikasi mobile atau internet lainnya dari penyedia jasa juga memudahkan si Ayah dalam banyak hal. si Kakak untuk dibeliin tiket pulang saat liburan nanti, dilakukan si Ayah lewat sebuah situs pembelian tiket. Praktis. Tanpa antri. Bisa mendapatkan banyak pilihan. Dan bisa langsung bayar tanpa ke kasir. Tanpa bawa uang. Transfer saja lewat mobile banking di tangan. Bahkan untuk berwisata pun, termasuk pembayaran penginapan atau hotel dan lainnya pun, dilakukan seperti itu. Praktis. Tidak bawa-bawa duit banyak. Aman. Dan dompet pun tetap terlihat tipis

Cara gampang tanpa uang

Alternatif lain yang bisa si Ayah lakukan adalah menggunakan kartu debit. Si Ayah tinggal pergi ke ATM saja, maka semuanya bisa dilakukan tanpa transaksi tunai.

Di banyak area di perkotaan, lokasi ATM berada di dekat sebuah swalayan. Dengan demikian, si Ayah pun terbiasa memakai kartu debit itu sebagai alat pembayaran. Beli odol atau beras atau belanja bulanan? Pake kartu saja. Dompet hanya dikeluarkan untuk mengambil kartu saja. Tangan tidak perlu susah-susah menghitung uang …dan tidak bersentuhan dengan kuman dari uang kertas yang lecek sambil mengusap ingus. Simpel. Higienis.

Penggunaan kartu juga tidak sebatas kartu debit. Kartu kredit pun banyak membantu membuat gampang. Si Ayah menggunakan kartu kredit biasanya untuk hal-hal yang bersifat darurat saja, seperti saat bepergian ke luar negeri dalam rangka tugas kantor. Alasannya karena si Ayah malas membeli mata uang yang ratenya selalu berfluktuasi dan sering menyakiti hati saat melihat rate jual dan beli yang jomplan. Selain itu, si Ayah juga sering tidak tahu persis berapa mata uang asing yang dibutuhkan untuk hal-hal tidak terduga. Jadi, si Ayah biasanya hanya menukarkan mata uang asing tunai secara terbatas. Cukuplah uang tunai untuk hal-hal yang penting yang tidak bisa dilakukan dengan kartu. Sementara untuk hal lain, bahkan untuk makan pun si Ayah menggunakan kartu kredit. Lagi pula, di luar negeri kartu kredit dengan senang hati diterima untuk banyak transaksi, termasuk bayar taksi dan beli koran. Kartu kredit juga penting untuk jaga-jaga, jika ada sesuatu pengeluaran tidak terduga yang membutuhkan pembayaran. Tanpa membawa uang jaga-jaga ke mana-mana, praktis, gunakan saja kartu kredit. Tenang jadinya.

Meski namanya kartu kredit, si Ayah biasanya tidak gunakan fasilitas kreditnya. Jadi, kalau tagihan muncul, langsung dia bayar. Bayarnya pun tidak pakai tunai. Lewat ATM atau mobile banking saja. Gampang.

Cara praktis transaksi bisnis

Kepraktisan tanpa transaksi tunai pun dirasakan saat berbisnis.

Entah sudah berjalan berapa tahun si Ayah tidak menerima uang tunai saat gajian. Berapa tahun itu pula si Ayah tidak menerima uang gajian dalam amplop atau bahkan tidak menerima kertas slip gaji. Slip dikirim lewat email dan uang gajian langsung ditransfer ke rekening. SI Ayah jadi tidak perlu repot-repot membawa amplop berisi uang untuk disimpan di bank – terkadang dengan deg-degan takut dikuntit perampok. Jika bank penerimanya sama dengan bank yang digunakan oleh kantor tempat bekerja, maka uang itu akan langsung ada di rekening kita langsung saat itu juga.

Di skala lebih besar, pembayaran dari klien ke perusahaan sudah sama sekali tidak dalam bentuk tunai. Beberapa tahun lalu, klien melakukan pembayaran dengan menggunakan cheque atau kertas cek. Uang akan langsung masuk ke rekening tanpa perusahaan menerima uang kertas. Bagian keuangan pihak klien atau pihak perusahaan kita tidak repot-repot menghitung uang, jari tangannya tetap cantik tanpa kena uang-uang lecek (ea…), jadinya mudah pencatatan dan …. susah terjadi penyalagunaan. Namun demikian, kertas cek – yang notabene sebenarnya non-tunai – bahkan sudah jarang dipakai. Sekarang semuanya dilakukan secara non-tunai, transfer. Fasilitas transfer itu pun juga dilakukan oleh para pelaku bisnis usaha kecil dan menengah. Termasuk usaha bisnis makanan si Ayah setelah pensiun dini ini.

img_4125

Bayar listrik, air, kartu kredit bahkan pajak? Tanpa uang tunai pun bisa | Foto: RIfki Feriandi

Cara praktis ini tidak hanya dilakukan untuk bisnis. Transaksi pembayaran berkaitan dengan kewajiban kepada negara – seperti pembayaran pajak, listrik dan sejenisnya, si Ayah sudah lakukan dengan non-tunai. Pembayaran listrik bulanan si Ayah sudah minta otomatis memotong tabungan, sehingga tidak ribet. Bahkan pembayaran pajak mobil pun sekarang sudah dilakukan non-tunai. Bebas pungli, bebas penyelewengan, mudah pencatatan, menciptakn transparansi dan good governance. Keren kan.

Cara hemat keuangan sehat

Kata siapa sih penggunaan non-tunai itu boros? Si Ayah kok mendapati sebaliknya. Buktinya, adalah saat si Ayah memenuhi permintaan membeli makanan untuk si Ade saat si Ibu tidak bisa melakukannya karena hujan besar. Si Ayah order pesanan lewat ojek aplikasi. Pilih pesanan. Promo gratis ongkos antaran. Sampe rumah aman. Hemat di waktu, hemat di ongkos. Bahkan sekarang si Ayah kalau bepergian hobi pakai ojek aplikasi, karena irit sekali – apalagi jika ada diskon 50% karena si Ayah mentransfer uang untuk disimpan (top-up). Tanpa kartu. Tanpa uang. Lancar. Hemat. Keuangan sehat.

img_4128

Sudah ongkos murah, diskon gede, gak ribet lagi. Untungnya non-tunai | Foto: Rifki Feriandi

Memang sih bisa terjadi jika justru karena non-tunai menjadikan segalanya mudah malah membuat kita semakin konsumtif. Apa-apa dibeli. “Tapi, da itu mah bagaimana kitanya atuh”.

Less cash, keren yes?

Dari aktivitas seperti di atas, praktis si Ayah sudah sangat mengurangi penggunaan uang tunai. Secara kasaran, diperkirakan paling tidak sudah terjadi penurunan intensitas si Ayah bersentuhan dengan uang kertas sekitar 60%. Sisa 40% mau tidak mau harus bertransaksi tunai, yang umumnya karena ketiadaan infrastruktur pembayaran. Berbelanja di pasar basah, beli bubur dan sejenisnya di abang penjual dorong. Juga sedekah ke pengemis. Bahkan, uang berbentuk koin pun si Ayah masih gunakan. Ini penting loh….buat pak Ogah :).

Dengan minimal 60% transaksi dilakukan non-tunai, sebanyak persentasi nominal itu pula si Ayah tidak menggunakan uang. Itu berarti, kemungkinan si Ayah mendapatkan uang palsu menjadi lebih sedikit. Bisa dibayangkan, jika potensi penggunaan non-tunai secara merata tinggi, maka penipu-penipu pembuat uang palsu akan gigit jari. Lha, peluang penyebaran uang palsunya kan menjadi berkurang. Di sini ktia bisa berkata “kacian deh lu”.

Juga, dengan melakukan transaksi non tunai, maka sebanyak nominal seperti itu pula uang kertas yang beredar berkurang. Artinya, si Ayah secara langsung membantu pemerintah mengurangi kebutuhan uang yang beredar.  Dari pengurangan kebutuhan uang beredar itu, maka pemerintah bisa mengurangi penarikan uang lusuh. In berujung menghemat biaya pencetakan uang baru. Juga menekan biaya handling (biaya pengelolaan) uang tunai . Artinya secara tidak langsung, si Ayah telah membantu pemerintah melakukan efisiensi keuangan negara. Aiiih. Si Ayah keren ya.

Less cash. Keren yes? Ting.

Tanpa dirimu, aku tak berarti

Pernah mendapatkan kutipan seperti ini?

Me without you is like….
…facebook with no friends
…youtube with no videos
…and google with no results

Iyes. Tanpamu, aku tak berarti. Tanpamu, gerakan non tunai itu tidak berarti.

Iya. Kamu? Me? You? Warga yang berdomisili di Indonesia, desa maupun kota.

Apalah artinya seorang si Ayah sendirian dalam melakukan transaksi non tunai dalam aktivitas kesehariannya? Alangkah egoisnya si Ayah yang mendapatkan segala kemudahan dan manfaat transaksi non tunai itu tanpa mengajak-ajak yang lain? Alangkah teganya si Ayah mendapatkan diskon 50% potongan biaya atau mendapatkan kecepatan transaksi mendapatkan tiket kereta, sementara kawannya sabar mengantri seperti ular tak berbuntut? Kejam! 🙂

Tapi, sebenarnya si Ayah sudah dapat teman banyak, umumnya di kota besar seperti Jakarta. Di kota-kota besar di mana perputaran ekonomi cukup kencang, ditandai dengan hadirnya layanan-layanan perbankan dan telekomunikasi, aktivitas non-tunai sudah banyak dilakukan.

Namun di daerah-daerah atau pelosok-pelosok, transaksi tunai masih merajai. Merajanya transaksi tunai sepertinya umumnya terjadi karena ketidaknyamanan masyarakat untuk menggunakan peranti non-tunai karena ketidaktahuan mereka. Bisa jadi ketradisionalan pola pikir serta pengaruh budaya dan latar belakang kehidupan pribadi sangat berpengaruh. Dan yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mau melakukan transaksi non-tunai jika mereka tidak mendapatkan akses kepada layanan perbankan atau “belum terjamah” produk perbankan?

Iya. Tanpamu, aku tak berarti. Betul. Tanpamu, wahai pemerintah.

Gerakan non tunai ini tidak akan berarti tanpa turut campur pemerintah.

Ada tiga hal yang penting dilakukan pemerintah utuk itu sehingga gerakan non tunai itu menjadi gerakan nasional, tidak berkutat di kota-kota besar. Tiga hal penting yang harus dilakukan agar lebih banyak lapisan masyarakat yang mendapatkan manfaatnya. Tiga hal itu, saya sebut tiga “I”:

  1. Infrastruktur

Penyediaan infrastruktur adalah hal vital, baik infrastruktur fisik maupun infrastruktur perbankan

Infrastruktur fisik penting untuk menggairahkan ekonomi di daerah tersebut, sehingga menarik bagi perbankan untuk hadir di sana. Hal yang perlu didukung ketika Pemerintah memang sedang gencar membangun infrastruktur – seperti jalan raya dan pelabuhan laut serta udara – ke pelosok-pelosok daerah. Diharapkan, ekonomi akan berkembang di seluruh Nusantara secara merata. Dengan demikian peredaran uang tidak hanya terpusat di Jakarta dan kota-kota besar saja di Pulau Jawa seperti selama ini terjadi.

infrastruktur-jokowi_infografis_detikfinance

Pembangunan infrastruktur di era Jokowi | Sumber: Bapenas

Dengan tumbuhnya perekonomian di daeran akibat dari pengembangan infrastruktur, maka akan mempermudah tumbuhnya minat institusi perbankan untuk tumbuh di daerah-daerah tersebut, yang berujung masyarakat mendapatkan akses lebih luas kepada produk perbankan dengan keamanan yang makin meningkat. Penetrasi bank pelat merah dengan penyediaan lebih banyak ATM untuk melakukan transaksi non-tunai adalah salah satu contohnya.

Jangan juga dilupakan peran pengembangan infrastruktur telekomunikasi. Menurut survey yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) dan diberitakan di kompas, lebih dari setengah penduduk Indonesia (132 juta orang tahun 2016) sudah terhubung ke internet. Sementara itu, kominfo.go.id. mengemukakan bahwa pengguna aktif smartphone di Indonesia para 2018 diperkirakan sebesar 100 juta orang. Namun demikian, survey juga memperlihatkan bahwa penggunaan teknologi seperti itu masih berkutat di Pulau Jawa. Pekerjaan penting untuk menyediakan fasilitas telekomunikasi ke pelosok daerah mengikuti perkembangan infrastruktur fisik.

  1. Integrasi industri pembayaran dan integrasi infrastruktur

Integrasi industri pembayaran penting untuk memperbanyak dan mempermudah dalam pelayanan perbankan. Karena masyarakat – sebagai konsumen – adalah raja, maka hindari masyarakat merasa kecewa dengan layanan non-tunai perbankan yang diakibatkan oleh ketiadaan integrasi industri pembayaran, perbankan dan penyedia layanan penjualan. Ketiadaan integrasi bisa dalam bentuk penolakan transaksi non-tunai, bea tambahan atau kelambatan pelayanan. Dengan integrasi, maka efisiensi sistem pembayaran bisa didapatkan serta konsumen mendapatkan perlindungan.

Alhamdulillah, kerjasama antara pemangku kepentingan keuangan (pemerintah) – dalam hal ini Bank Indonesia sebagai regulator dan Otoritas Jasa Keuangan selaku pengawas, dan pelaku usaha perbankan – termasuk penerbit kartu kredit dan e-money, dan dunia usaha pada umumnya sudah dimulai. Bank Indonesia juga sudah mulai mengintegrasikan dan memperkuat  kelembagaan industri pembayaran dengan mendirikan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) dan Asosiasi Penyelenggara Pengiriman Uang (APPUI)

Sementara itu integrasi infrastruktur pastinya akan sangat berkontribusi memberikan kemudahan kepada konsumen dan memberi efek menarik dalam penggunaan non tunai. Contoh yang paling gampang adalah infrastrutktur yang yang terintegrasi antar moda transportasi di Jakarta, Commuter Line – Transjakarta, dengan menggunakan e-money yang dikeluarkan bank nasional. Juga kemudahan e-money digunakan

  1. Informasi

Faktor “I” terakhir ini sangat penting. Kedua faktor I di atas tidak akan efektif jika tidak ada informasi kepada masyarakat. Masyarakat butuh pemahaman tentang apa itu non-tunai, apa keuntungan, apa kemudahan dan segala hal positif yang berkaitan. Penjelasan tentang kebutuhan masyarakat dalam hal perpindahan dana secara cepat, aman dan efisien perlu lebih digaungkan. Juga jawabannya dalam bentuk program perbankan dengan berbagai fasilitas kemudahan dan semakin tiada batasnya. Informasi yang sesuai dengan budaya setempat akan sangat memudahkan gerakan ini berjalan, sehingga masyarakat nyaman untuk beralih tidak memegang uang dalam transaksi, bahkan untuk transasi mikro sekalipun. Penyediaan informasi sudah dilakukan dalam GNNT dengan kerjasama bersama Kompasiana dan Net.tv. Namun, ada baiknya juga GNNT mulai menggandeng dan memanfaatkan media televisi da rdio daerah yang sejatinya bisa menggapai pelosok lebih jauh.

Satu hal lain yang sangat perlu diperhitungkan dalam memberika informasi kepada masyarakat adalah bahwa Gerakan Non Tunai bukanlah untuk menghilangkan transaksi tunai, tetapi mengurangi transaksi tunai. Gerakan ini adalah untuk menuju Less Cash Society, bukan Cashless Society. Kejelasan ini diperlukan agar tidak ada kekhawatiran masyarakat traditional dengan perubahan gaya hidup dalam bertransaksi.

Bantuan Langsung Non-tunai

Di luar tiga “I” yang penting di atas, hal terakhir bisa jadi juga diperlukan: Bantuan Langsung. Kali ini bukan dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk lain untuk memperlancar transaksi non-tunai. Itulah BLNT : Bantuan lagsung non-tunai.

Bantuan ini akan sangat membantu terlaksananya program ini. Bukan bantuan langsung untuk masyarakat miskin. Tetapi bantuk untuk “fakir pulsa”. Bantuan ini pun bukan dalam bentuk BPL – Bantuan Pulsa Langsung, melainkan justru memperbanyak area yang mendapatan sinyal secara wifi yang gratis. Wifie gratis di tempat-tempat umum sangat membantu masyarakat untuk beralih ke non-tunai. Bantuan seperti ini akan sangat membantu target konsumen, terutama generasi yang melek internet. Pilih lokasi yang strategis, seperti di perpustakaan umum atau mesjid atau taman-taman. Strategis dong, sambil meramaikan mesjid atau perpustakaan, juga membantu masyarakat beralih ke non-tunai.

Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Ah, alangkah damainya hidup dengan transaksi non-tunai. Banyak kemudahan. Banyak manfaat. Mudah lagi.

Yooook, beralih ke non-tunai, teman-teman.

[su_box title=”SUMBER”]Cerita ini meraih juara kedua lomba blog GNNT Nontunai bertemakan “Smart Money Wave” yang diadakan Bank Indonesia dan Net akhir 2016 lalu. Klik di sini untuk membaca artikel aslinya.[/su_box]

3 KOMENTAR

  1. I used to be recommended this website via my cousin.
    I am no longer sure whether or not this publish is
    written by him as no one else recognize such targeted approximately my problem.
    You are wonderful! Thanks!

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini