Mengenal GNNT

Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) adalah gerakan penggunaan alat pembayaran nontunai yang dicanangkan Bank Indonesia pada tanggal 14 Agustus 2014.

GNNT bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran sekaligus meningkatkan penggunaan nontunai  di kalangan masyarakat, pelaku bisnis dan lembaga-lembaga pemerintah. Sehingga berangsur-angsur terbentuk suatu komunitas atau masyarakat yang lebih aktif dalam menggunakan nontunai (less cash society) di tanah air, dari Sabang sampai Merauke.

Gerakan ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Bank Indonesia dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Pemerintah Daerah serta Asosiasi Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia sebagai komitmen untuk mendukung GNNT.

Bank Sentral menargetkan gerakan ini menjangkau sedikitnya 25 persen penduduk Indonesia pada tahun 2024 nanti, atau 10 tahun sejak tahun pencanangannya.

Dalam rangka mempercepat gerakan tersebut, Bank Indonesia selaku otoritas sistem pembayaran di Indonesia membentuk Program Elektronifikasi dan Inklusi Keuangan yang dipimpin langsung oleh Direktur Departemen Kebijakan Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia.

Program-program yang telah dilaksanakan di antaranya penyaluran bantuan sosial, elektronifikasi transaksi untuk transportasi dan retribusi parkir. Saat ini, di beberapa kota besar sudah tersedia sistem parkir elektronik, kartu untuk bis atau kereta api, pintu masuk tol nontunai dan vending machine (mesin kaki lima) untuk makanan, minuman dan barang lainnya.

Bank Indonesia bersama OJK juga menginisiasi Layanan Keuangan Digital dan Layanan Keuangan Tanpa Kantor (Laku Pandai) untuk menjangkau daerah-daerah pelosok yang tidak terjangkau layanan perbankan. Inisiatif ini diperlukan, karena masih sedikitnya jumlah pemilik rekening bank di tanah air.

Hingga akhir 2016, tercatat sedikitnya 1,2 juta orang telah menggunakan nontunai dalam transaksi ritel sehari-hari di 24 kota. Mulai dari kartu kredit, kartu debit, hingga uang elektronik. Sementara itu, agen LKD dan Laku Pandai yang tersebar sudah mencapai 14.702 agen di 489 Kabupaten dan Kota (data Februari 2017).