Semakin maraknya penggunaan transaksi nontunai bukan semata-mata karena adanya dorongan dari otoritas moneter dan dukungan dari pemerintah. Nontunai jadi pilihan masa kini karena uang tunai memiliki beberapa kelemahan.

Setidaknya ada 5 kelemahan nontunai, yaitu:

1Biaya yang besar

Pengelolaan uang Rupiah memerlukan biaya yang sangat besar. Mulai dari perencanaan, pencetakan, pengeluaran, pengedaran, pencabutan atau penarikan, sampai pemusnahan dan penggantian uang yang dihancurkan.

Biaya cetak uang Rupiah salah satunya ditentukan oleh sistem pengamanannya. Semakin kompleks sistem pengamanan yang diaplikasi ke dalam uang yang dicetak, semakin mahal pula biaya cetak yang dikeluarkan.

Misalnya uang kertas Rupiah Tahun Emisi 2016 yang memiliki 9-12 jenis sistem pengaman, yang menempatkannya sebagai mata uang dengan tingkat keamanan tertinggi dunia. Biayanya lebih mahal dari cetakan tahun sebelumnya.

2Repot dalam Transaksi

Transaksi dengan uang tunai tidak praktis, salah satunya karena banyaknya uang kembalian yang harus disediakan. Saat belum menerapkan nontunai di tol, Jasa Marga membutuhkan dua miliar Rupiah uang receh per hari untuk kembalian.

Faktor lain yang merepotkan adalah antrian yang lama di kasir, lantaran sangat sedikit pembeli yang menyiapkan uang sejumlah harga belanjaan atau nilai transaksi yang harus dibayar.

3Tidak Tercatat

Kelemahan berikutnya adalah, transaksi tunai tidak dapat direkam atau dicatat. Dengan tidak adanya pencatatan transaksi yang terjadi di masyarakat, maka akan banyak risiko yang tidak bisa diantisipasi.

Di antaranya:

  • Perencanaan ekonomi kurang akurat (shadow economy).
  • Memberi peluang terjadinya tindakan kriminal (pencucian uang, terorisme).

Leave a Reply