Hingga akhir tahun 2017 lalu, transaksi di jalan tol di wilayah Jabodetabek sudah 100 persen menggunakan nontunai atau uang elektronik. Hal tersebut diungkapkan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng, beberapa waktu lalu.

Tapi di luar Jabodetabek, lanjut Sugeng, tingkat penetrasinya diakui stagnan di angka 98 persen per Desember 2017. Penyebabnya bukan karena kurangnya partisipasi pengguna nontunai, tapi karena terus bertambahnya ruas tol baru.

“Buat sisa 2 persen yang masih melakukan transaksi tunai, itu disebabkan adanya ruas tol yang baru diresmikan sehingga masih menyesuaikan dengan budaya masyarakat sekitar dulu,” jelas Sugeng kepada media pers.

Kendati demikian, bank sentral bersama pihak-pihak terkait terus mendorong agar ruas-ruas tol yang baru dibuka itu segera menerapkan sistem pembayaran nontunai. “Kami terus berupaya melakukan pendekatan terkait budaya masyarakat tersebut,” lanjutnya.

Sementara itu, jumlah uang elektronik yang beredar sampai Oktober 2017 mencatatkan kenaikan lebih tinggi ketimbang periode yang sama sepanjang 2016.

Dari Januari sampai Oktober 2017, jumlah uang elektronik, baik berbasis chip (dalam bentuk kartu) maupun server (dalam bentuk aplikasi), sudah bertambah sebesar 56 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode 2016 yang kenaikannya hanya 50 persen.

Leave a Reply