Sejak Oktober 2017 sampai akhir Januari 2018 nanti, Bank Indonesia (BI) melakukan uji coba remitansi atau transfer uang internasional secara nontunai. Yang disasar adalah negara-negara dengan jumlah tenaga kerja Indonesia besar seperti Malaysia, Singapura, Jeddah dan Hong Kong.

“Beberapa bank diajak melakukan itu sambil diajak mengidentifikasi tantangan dan peluangnya. Tujuannya agar TKI lebih nyaman, mudah, dan murah dalam bertransaksi,” kata Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Pungky P. Wibowo.

Salah satu produk nontunai perbankan yang dilibatkan dalam uji coba ini adalah Rekening Ponsel dari CIMB

Selain untuk meningkatkan transaksi nontunai, program ini digelar dalam rangka meningkatkan keuangan inklusif. “Remitansi ini punya dampak positif bagi peningkatan keuangan inklusif,” lanjut Pungky.

Beberapa kajian yang telah dilakukan bank sentral mengungkapkan, sebagai bagian dari bentuk transfer dana dari luar negeri, remitansi menjadi titik masuk (entry point) keuangan inklusif. Kemudahan dalam transfer dana dalam proses remitansi akan mengarahkan masyarakat yang unbanked agar dapat menggunakan produk dan layanan keuangan formal.

Sasarannya dua pihak sekaligus, yaitu pekerja Indonesia di luar negeri yang mengirimkan uang, dan keluarganya di dalam negeri yang menerima uang tersebut.

Pengiriman uang dapat meningkatkan permintaan terhadap tabungan atau uang elektronik sebagai sarana penyimpanan uang yang lebih aman. Selanjutnya, dengan tabungan dan uang elektronik tersebut, track record unbanked dapat dimonitor dan dianalisa untuk selanjutnya menjadi bagian penting dalam rangka pemberian pembiayaan.

Berdampak Besar

Remitansi sendiri diakui secara luas merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang berdampak ekonomi besar. Laporan statistik Bank Dunia pada 2014 memperlihatkan kontribusi remitansi di beberapa negara mencapai lebih dari 20% PDB mereka.

Di Indonesia, jumlah remitansi masuk di 2015 mencapai $9.631 juta, sementara remitansi keluar sebesar $836 juta. Jumlah remitansi masuk per Oktober 2016 kemudian meningkat menjadi $9.842 juta, demikian Arif Perdana dalam sebuah artikel yang ditayangkan Tirto.id.

Jumlah remitansi masuk ini memiliki potensi yang besar dalam menggerakkan perekonomian. Berbeda dengan bantuan ekonomi internasional, remitansi menjangkau dan berdampak langsung terhadap individu-individu rumah tangga.

Sebagai contoh, mereka yang menjadi pekerja migran akan mengirimkan uangnya secara berkala kepada keluarganya di Indonesia. Uang ini tentunya akan dapat digunakan secara langsung untuk meningkatkan taraf hidup dan perekonomian keluarga pekerja migran tersebut.

Leave a Reply