Perilaku masyarakat dalam bertransaksi dan menggunakan layanan perbankan mulai berubah. Saat ini, sedikitnya 25 persen orang Indonesia memilih aplikasi bank di ponsel (mobile banking) untuk bertransaksi secara nontunai. Sementara 14,9 persen lainnya sudah menggunakan aplikasi dompet digital (digital wallet).

Meningkatnya transaksi nontunai lewat aplikasi di ponsel didorong semakin canggihnya sistem keamanan yang telah diterapkan layanan keuangan di dunia. Masyarakat terbantu karena transaksi lewat aplikasi mobile banking berlangsung lebih cepat dan praktis.

Penetrasi pengguna mobile banking dipastikan akan tumbuh pesat, mengingat pesatnya pertumbuhan pengguna ponsel tanah air. Industri perbankan pun sudah berlomba-lomba meningkatkan layanan digitalnya demi merespons kebutuhan pasar di era digital.

Tapi harap dicatat, kegiatan transfer uang, cek saldo sampai bayar tagihan atau belanja lewat aplikasi di ponsel bukan berarti bebas masalah. Penerapan teknologi nontunai, bagaimana pun, memiliki celah keamanan yang dapat dimanfaatkan oleh para penjahat siber.

Nah, agar transaksi via aplikasi mobile banking berjalan aman, ikuti panduan aman berikut:

1. Hindari akses internet terbuka. Misalnya wifi umum di pusat perbelanjaan atau di lobi hotel. Biasanya, akses internet terbuka tidak memiliki keamanan yang dibutuhkan untuk memproteksi transaksi digital. Apalagi jika wifi yang digunakan tidak dilindungi dengan kata kunci (password). Akibatnya, data dalam ponsel bisa dicuri oleh peretas.

2. Perbarui selalu aplikasi mobile banking. Pastikan Anda menggunakan aplikasi versi terbaru yang disediakan secara resmi oleh bank. Begitu ada rilis pembaruannya, segera perbarui aplikasi di ponsel Anda. Beberapa bank menyediakan pembaruan aplikasi di toko aplikasi Android (Play Store) dan iOS (App Store). Tapi ada juga bank seperti BRI yang aplikasi dan pembaruannya hanya tersedia di website resmi bank.

3. Hindari melakukan jailbreak gadget iOS atau root perangkat Android. Jailbreak atau root adalah proses modifikasi sistem operasi sehingga pengguna memiliki akses tanpa batas yang untuk melakukan perubahan di luar standard yang ditetapkan pengembang dan pemilik sistem operasi tersebut (Apple untuk iOS atau Google untuk Android). Melakukan jailbreak atau root berarti membuka peluang bagi aplikasi pihak ketiga di luar standard sistem operasi untuk mengakses sistem operasi dan informasi di dalamnya. Hal ini tentu membahayakan data yang tersimpan di dalam perangkat pengguna.

4. Gunakan fitur pengaman ganda. Sistem operasi dan ponsel terbaru menyediakan fitur pengaman berlapis, mulai dari pola dan sidik jari untuk mengunci ponsel, kata kunci untuk memproteksi aplikasi tertentu, sampai kata sandi saat masuk ke dalam aplikasi dan saat bertransaksi. Gunakan semua fitur pengaman ini agar saat ponsel Anda hilang atau tidak sedang dalam genggaman, orang lain tidak bisa mengakses aplikasi mobile banking dan bertransaksi di dalamnya dengan mudah.

5. Aktifkan layanan otentifikasi. Hampir semua bank dan penyedia layanan keuangan menyediakan pengaman ganda untuk transaksi online, salah satunya dalam bentuk otentifikasi perangkat lewat One-Time-Password (OTP). Layanan ini berfungsi melakukan otentikasi serta melakukan verifikasi proses transaksi—yang kodenya dikirimkan lewat SMS. Aktifkan layanan ini untuk memberi Anda lapisan penjagaan keamanan bertransaksi yang lebih baik.

6. Jangan simpan informasi rahasia akun bank Anda di ponsel. Ini sama saja Anda meletakkan kertas berisi kata sandi ATM berikut kartu ATM nya di dalam satu dompet. Begitu dompet Anda hilang, selesai sudah.

* Ingin menjadikan konten ini sebagai native ads? Hubungi admin@nontunai.com.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini