Kebiasaan masyarakat Indonesia dalam bertransaksi lambat-laun akan berubah, dari sebelumnya menggunakan uang tunai beralih ke uang elektronik atau Unik.

Pada hakekatnya, tidak ada perbedaan nilai uang antara uang elektronik berbentuk kartu atau aplikasi dengan uang tunai berbentuk kertas atau koin. Kedua bentuk uang tersebut sama-sama diatur dan dilindungi penggunaannya oleh Bank Indonesia selaku pemegang otoritas sistem pembayaran tanah air.

Perbedaan antara uang tunai dan Unik terletak pada cara penggunaannya. Kalau uang tunai, cukup serahkan uangnya saat transaksi, terima bukti transaksi, serah-terima barang, maka transaksi pun selesai.  Tapi kalau menggunakan uang elektronik, uang plastik atau aplikasinya harus dihubungkan dulu ke penjual secara digital.

Perbedaan kedua terletak pada wujud fisiknya. Kalau uang tunai, setelah diserahterimakan, jumlah fisik uang yang kita punya berkurang. Tapi kalau uang elektronik, setelah diterimakan, tidak ada perubahan apa-apa pada wujud fisik kartu Unik yang kita pegang. Yang berubah adalah saldo di dalam kartu itu, yang bisa dicek lewat alat pembaca kartu atau lewat aplikasi ponsel.

Karena ada perbedaan dalam cara penggunaan dan wujud fisiknya, ada 7 hal yang perlu Anda ketahui agar tetap nyaman dan aman saat bertransaksi dengan Unik.

1Saldo.

Uang elektronik bekerja dengan cara mencatat saldo uang yang tersimpan di dalam kartu. Sisa uang yang Anda miliki akan ter-update seketika Anda melakukan transaksi, baik saat membeli barang atau pun saat isi ulang. Anda bisa mengecek posisi terakhir saldo Unik di alat pembaca kartu yang terdapat di toko, lewat mesin ATM ataupun lewat ponsel berteknologi NFC.

2Struk.

Setiap transaksi harus disertai dengan struk, begitu juga saat bertransaksi secara nontunai. Anda bisa meminta struk kepada kasir yang melayani isi ulang uang elekronik. Struk juga akan otomatis keluar setelah Anda menempelkan kartu Unik di pintu tol. Simpanlah struk sampai Anda yakin tidak ada masalah yang muncul dari transaksi sebelumnya. Bila anda mengalami pembebanan biaya dua kali (double deduct) Anda bisa melapor ke pihak merchant dengan membawa bukti transaksi berupa struk.

3Biaya Transaksi.

Hal ketiga yang perlu diperhatikan adalah beban biaya yang dikenakan saat Anda bertransaksi. Beberapa Unik mengenakan biaya isi ulang. Pastikan biaya yang dibebankan kepada Anda sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh otoritas. Bila terjadi pelanggaran, Anda bisa melaporkannya ke Bank Indonesia melalui layanan pusat informasi “BICARA 131” (lewat saluran telepon di nomor 131 ataupun lewat email ke bicara@bi.go.id). Anda juga bisa datang langsung ke kantor BI terdekat untuk menyampaikan keluhan yang dialami terkait pembebanan biaya transaksi nontunai.

4Related

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini